Seperti Maverick di Top Gun, Ini Arti Call Sign Pilot Tempur Legendaris Indonesia Djoko ‘Beetle’ Suyanto

Menkopolhukam di era Presiden SBY, Djoko Suyanto, saat hadir di program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (06/09/2025). Foto: Wahyu Suryana
Menkopolhukam di era Presiden SBY, Djoko Suyanto, saat hadir di program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (06/09/2025). Foto: Wahyu Suryana

Maverick yang menjadi ‘call sign’ pilot tempur legendaris Pete Mitchell yang diperankan Tom Cruise di film Top Gun ternyata merupakan tradisi di Angkatan Udara (AU). AU Indonesia turut memiliki tradisi yang sama.

Nama Djoko Suyanto menjadi salah satu pilot tempur hebat yang pernah dimiliki Indonesia. Lulusan Akabri 1973 itu merupakan penerbang pesawat tempur F-5 Tiger II yang berpangkalan di Lanud Iswahyudo, Magetan.

Meski begitu, Djoko memang tidak banyak dikenal sebagai pilot tempur. Nama Djoko malah lebih banyak dikenal di masyarakat luas sebagai pejabat setelah menjadi Panglima TNI dan Menkopolhukam di era Presiden SBY.

Kepada terusterang.id, Djoko menceritakan alasan seorang pilot tempur harus memiliki call sign. Ia menerangkan, di udara pilot-pilot tempur sangat egaliter, tidak ada jarak antara pangkat yang tinggi dan rendah.

“Karena kita sesama pilot harus saling melindungi, memberi peringatan, kalau tidak diberikan call sign, dipanggil nama, nama Djoko banyak, Djoko, yang mana, kalau misal yang terbang ada 2 Djoko bingung, pakai call sign lebih mudah karena inisial yang khas pada seseorang,” kata Djoko kepada terusterang.id yang juga ditayangkan di program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (06/09/2025).

Biasanya, lanjut Djoko, call sign seorang pilot tempur menggunakan 2 suku kata agar lebih mudah. Selain itu, biasanya pilot tempur memilih nama binatang buas yang memiliki semangat tempur tinggi sebagai call sign.

“Nama saya saya pilih Beetle, biasanya yang dipilih 2 suku kata, jangan bikin nama binatang yang panjang, biasanya binatang buas, fighting spirit tinggi, meskipun lama-lama habis itu nama binatang, untuk memudahkan kita memanggil,” ujar Djoko.

Tanpa call sign, ia menyampaikan, nama-nama dalam satu skadron saja sudah cukup banyak yang sama. Sementara, jika sudah memilih call sign, perintah akan jelas tertuju hanya kepada satu orang tanpa bisa tertukar.

“Dulu saya terbang di F5 Tiger, itu pesawatnya kecil, ramping, kayak panah dan cepat, Beetle itu kecil tapi sengatannya luar biasa, pesawat kecil tapi cepat, manuver bagus, daya gempur bagus,” kata Djoko.

Sebelum meletakkan jabatan sebagai Menkopolhukam, karir Marsekal Djoko Suyanto terbilang cemerlang. Djoko pernah mengikuti pelatihan di USAF Fighter Weapon Instructur School di Pangkalan Udara Nellis, Las Vegas, Nevada.

Setelah itu, Djoko menempati jabatan-jabatan yang sangat strategis. Mulai dari Komandan Skadron Udara 14, Komandan Lanud Iswahyudi, Panglima Komandan Komando Pendidikan TNI AU, sampai Kepala Staf TNI AU.

Kemudian, Djoko mencatatkan 2 sejarah penting. Djoko, merupakan Panglima TNI pertama dalam sejarah bangsa Indonesia yang berasal dari AU. Selain itu, Djoko merupakan Menkopolhukam pertama dalam sejarah yang berasal dari AU. (WS05)