Mahfud MD: Tampaknya Informasi yang Benar tidak Sampai ke Meja Prabowo

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (01/09/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (01/09/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengingatkan, selama pemerintahan Presiden Prabowo berjalan masyarakat sudah dan selalu menyuarakan masukan terhadap kebijakan-kebijakan atau kondisi-kondisi yang keliru. Tapi, ia merasa, masukan-masukan yang disampaikan seperti tidak sampai ke meja Presiden.

“Soal komunikasi, nampaknya informasi yang benar itu tidak sampai ke meja Prabowo, nampaknya. Ya mungkin, karena agak aneh kalau tidak membaca medsos misalnya, medsos itu meskipun sering banyak variasi beritanya, tapi substansinya sama, untuk penyelesaian masalah, untuk keluhan masyarakat,” kata Mahfud dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (01/09/2025).

Ia menerangkan, pada 29 Mei 2025 dirinya mengumpulkan guru-guru besar perguruan tinggi di Yogya seperti UGM, UII, UWM, dan lain-lain. Kesimpulannya, guru-guru besar ini merasa tidak ada harapan karena setiap memberi masukan tidak pernah direspons sesuai masukan-masukan yang disampaikan.

Mereka, lanjut Mahfud, merasa sudah tidak ada guna memberikan masukan dan memilih bekerja lain mencetak kader bangsa ke kampus-kampus, tidak perlu dibawa ke politik praktis. Sebab, mereka merasa, kasihan nanti kampus-kampus yang memberi masukan malah dapat teror dari kekuatan-kekuatan luar.

Mahfud menyampaikan, guru-guru besar ini sampai merasa perkuliahan di kampus cukup mempelajari sesuatu yang filosofis-filosofis saja. Mereka sampai ke titik membiarkan saja pemerintahan Presiden Prabowo berjalan sampai pada suatu saat akan tersadar kalau sudah tidak bisa ke mana-mana lagi.

“Karena setiap ada masukan ke Presiden, ya didengar, didengar, tapi tidak pernah ada follow up sesuai dengan masukan. Kalau disampaikan ke level berikutnya tampaknya tidak sampai ke Presiden atau menterinya ini tidak mengerti terhadap usul itu, sehingga tidak pernah ada reaksi yang menuju ke arah itu,” ujar Mahfud.

Bahkan, pada pertemuan berikutnya pada 27 Juli 2025, guru-guru besar ini masih pada kesimpulan yang sama yaitu biarkan saja pemerintahan ini berjalan sampai di suatu titik membentur sesuatu. Sekarang, ia melihat, pemerintahan sudah terbentur karena rakyat marah, rakyat protes, bahkan rakyat turun ke jalan.

Selain itu, Mahfud mendengar, rumor-rumor menyebut belakangan menteri-menteri tiap ada kesempatan bertemu Presiden hanya menyampaikan pujian-pujian, bukan memberi masukan. Malah, ada yang memuji pidato Prabowo bagus dan tidak pernah ada Presiden sebelumnya yang menyampaikan pidato seperti itu.

“Sangat tidak sehat, Presiden kalau pidato pastilah, kalau cuma ingin dengar pendapat pasti orang yang di depan dia akan bicara bagus, meskipun tidak bagus, namanya Presiden, kenapa tidak memberi masukan yang benar,” kata Mahfud.

Kondisi ini mengingatkan Mahfud kepada tulisan proklamator, Bung Hatta, pada 1941 jelang masuknya Jepang. Dalam sebuah artikel yang berjudul Karakter, Hatta mengingatkan kita jauh sebelum merdeka kalau puji-pujian itu tiada memberi petunjuk, dan tidak sedikit pemimpin yang jatuh karena suka pujian.

Jadi, kata Mahfud, Bung Hatta pada zaman itu sudah mengingatkan seorang pemimpin itu lebih baik meminta dikritik daripada dipuji. Selain itu, Mahfud mengingatkan tulisan Hatta tentang pangkal utama pendidikan karakter adalah cinta kebenaran dan berani berkata sesuatu yang salah kepada juragan.

“Ini sebenarnya Hatta ini kan santri ya dari Minangkabau. Itu sama dengan hadits Nabi itu yang bunyinya, sebaik-baik perjuangan itu adalah berkata yang benar di depan pemimpin yang lalai, jangan hanya memuji, bagaimana kalau orang datang hanya untuk memuji, apalagi tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh ormas,” ujar Mahfud. (WS05)