Mahfud MD Ungkap Kecerdasan Gus Dur Sadarkan Penatar P4 tentang Makna Demokrasi

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat hadir di Konferensi Pemikiran Gus Dur yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jumat (29/08/2025). Foto: Faisawqi Dival
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat hadir di Konferensi Pemikiran Gus Dur yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jumat (29/08/2025). Foto: Faisawqi Dival

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, kembali mengungkap satu cerita lucu sarat makna tentang (alm) Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kali ini, tentang Gus Dur yang mengajarkan makna sebenarnya tentang demokrasi kepada penatar Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

“Suatu saat Gus Dur ikut penataran P4, diajari tentang demokrasi Pancasila, Gus Dur tidur, penatarnya sampai marah. Akhirnya, coba jelaskan tentang demokrasi, apa menurut Gus Dur demokrasi, Gus Dur bilang saya tidur barusan mimpi bertemu Bung Karno, mengajarkan ke saya demokrasi Indonesia begini yang benar,” kata Mahfud dalam Konferensi Pemikiran Gus Dur yang digelar GusDurian di Asrama Haji Pondok Gede, Jumat (29/08/2025).

Mendengar itu, Gus Dur mendapat bentakan dari penatar P4 tersebut. Penatar itu marah dan menyatakan kalau P4 ini sesuatu yang serius, dan mempertanyakan alasan Gus Dur ditanya tentang demokrasi malah membicarakan soal mimpi. Ternyata, Gus Dur memberi jawaban yang menghentak penatar P4 tersebut.

“Loh, bagaimana antum mau bicara demokrasi, mimpi saja tidak boleh. Lalu, Gus Dur cerita, jadi demokrasi dimulai dari kebebasan, termasuk kebebasan bermimpi, kalau mimpi saja tidak boleh Anda jangan bicara demokrasi dong, wong mimpi saja tidak boleh, apalagi protes,” ujar Mahfud, mengutip Gus Dur.

Kemudian, Gus Dur menerangkan soal 3 pilar demokrasi yang dimulai dari kebebasan. Lalu, kesamaan kedudukan, karena di antara perbedaan-perbedaan itu semua sama, baik itu mayoritas, minoritas, Islam, Katolik, semua sama kedudukan. Terakhir, yang terpenting kata Gus Dur tidak lain kedaulatan hukum.

“Itu kata Gus Dur, tidak ada gunanya semua orang bebas, dikatakan bebas, nanti malah liar kalau tidak ada hukumnya, tidak ada gunanya orang bicara toleransi kalau tidak ada penegakan hukumnya,” kata Mahfud.

Pun bagi Nahdliyin, Mahfud menekankan, Gus Dur tidak khawatir karena dengan demokrasi malah akan maju. Artinya, orang-orang NU yang pintar dan mungkin tidak mendapat kesempatan yang sama zaman Pak Harto, yang dulu menyembunyikan idenditas NU-nya diberikan kesempatan yang sama oleh Gus Dur.

Bahkan, Mahfud mengingatkan, setelah Gus Dur menjadi Presiden RI, banyak sekali anak-anak NU yang diangkat derajatnya sampai ke level tertinggi negeri. Bahkan, apa yang dilakukan Gus Dur memberikan dampak yang berlanjut karena setelah itu orang-orang NU mampu bersaing dan berdaya saing.

Menurut Mahfud, demokrasi ketika dibangun dengan baik memang memberikan kesempatan yang sama kepada semua. Artinya, Gus Dur mampu mengubah Indonesia jadi tempat yang semua dapat bersaing secara terbuka. Bagi Mahfud, Gus Dur pula yang mengajarkan makna sebenarnya cosmopolitanisme.

“Cosmopolitanisme, kesewargaan, jadi budaya Islam itu atau peradaban Islam itu peradaban kesewargaan yang ciri-cirinya kita bekerja bersama, semua mahluk Tuhan yang satu, tapi pelembagaan dalam agama bisa berbeda-beda, kenapa harus bertengkar, kenapa harus bermusuhan,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.