Jelang Pertemuan Putin-Trump, Moskow Pastikan Bela Kepentingan Nasional

Presiden Rusia, Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan) bertemu dalam G20 Summit yang digelar di Osaka, 28 Juni 2019.
Presiden Rusia, Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan) bertemu dalam G20 Summit yang digelar di Osaka, 28 Juni 2019.

Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Alexey Fadeyev, angkat bicara soal masalah-masalah yang akan dibahas dalam pertemuan Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump. Ia memastikan, delegasi Rusia akan membela kepentingan nasionalnya dalam pertemuan tersebut.

“Mengenai tujuan delegasi Rusia dalam negosiasi di Alaska, semuanya semata-mata didasarkan pada kepentingan nasional,” kata Fadeyev dalam konferensi pers di Moskow, dikutip Kamis (14/08/2025).

Soal kemungkinan pertukaran wilayah antara Rusia dan Ukraina, Fadeyev menegaskan, struktur teritorial Federasi Rusia sudah diatur dalam Konstitusi mereka dan bersifat final. Pada 2022, Rusia menggabungkan empat wilayah di Ukraina yang oleh negara-negara Barat disebut sebagai aneksasi atau pencaplokan.

Rusia disebut tidak sepenuhnya menguasai wilayah tersebut, namun mengendalikan sebagian wilayah lain seperti Sumy, Kharkiv, dan Dniepr. Laporan media-media massa menyebut, Rusia kemungkinan akan menukar wilayah tersebut untuk mendapatkan kendali penuh atas empat wilayah yang diklaim.

Ia menekankan, pertemuan Rusia-AS ini akan membahas masalah-masalah yang menumpuk mulai dari perang di Ukraina sampai hambatan membangun dialog bilateral yang normal dan fungsional. Fadeyev turut mengonfirmasi kehadiran Menteri Luar Negeri, Sergey Lavrov, dalam pertemuan mendatang.

“Ya, saya bisa memastikan partisipasi Lavrov dalam agenda yang direncanakan Jumat depan di Alaska,” ujar Fadeyev.

Pekan lalu, Trump mengumumkan pertemuan di Alaska, yang kemudian dikonfirmasi Penasihat Presiden Rusia, Yury Ushakov. Setelah diberitakan, pemimpin-pemimpin Eropa menggelar pertemuan virtual yang dihadiri Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. Fadeyev turut mengmentari pertemuan tersebut.

“Tindakan yang tidak signifikan secara politik maupun praktis,” kata Fadeyev. (Antara/WS05)