Menteri Luar Negeri Irlandia, Simon Harris, menyatakan kekhawatiran mendalam atas bencana kemanusiaan dan aksi genosida di Jalur Gaza. Harris menegaskan kembali tuntutan Irlandia untuk menangguhkan Perjanjian Asosiasi Uni Eropa-Israel.
Harris menuntut dilakukan upaya-upaya mendesak untuk mengamankan gencatan senjata, meningkatkan bantuan kemanusiaan, dan pembebasan sandera di Gaza. Sayangnya, ia menekankan, Israel justru bertindak ke arah yang berlawanan.
“Jika Israel melanjutkan rencana pendudukannya di Kota Gaza, itu akan berarti lebih banyak pertumpahan darah, lebih banyak korban jiwa, lebih banyak kelaparan, dan semakin jauhnya harapan perdamaian. Rencana terbaru ini tidak boleh dilanjutkan,” kata Harris, Selasa (12/08/2025).
Sebelumnya, pada Jumat (08/08/2025), kabinet keamanan Israel menyetujui rencana Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menduduki Kota Gaza. Rencana ini memicu reaksi keras internasional dari pemerintah dan badan-badan hak asasi manusia.
Desakan Irlandia sendiri disampaikan menyusul konferensi video informal menteri-menteri luar negeri Uni Eropa. Konferensi membahas perkembangan menjelang pertemuan Presiden AS, Donald Trump dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di negara bagian Alaska, Amerika Serikat.
Serangan Israel dan situasi kemanusiaan Gaza jadi agenda menteri-menteri luar negeri dalam pertemuan informal itu. Harris menekankan, Komisi Eropa perlu mengajukan tindakan konkret yang dapat diambil Eropa untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel agar mengubah arah.
Bagi Harris, sangat jelas Israel melanggar Pasal 2 Perjanjian Asosiasi dan sangat penting pada pertemuan Urusan Luar Negeri berikutnya tindakan konkret diambil dan serangkaian opsi diajukan. Irlandia berpandangan tegas kalau perjanjian dengan Israel harus ditangguhkan.
“Irlandia berpandangan tegas bahwa Perjanjian Asosiasi harus ditangguhkan sambil menunggu penghentian semua kekerasan. Kita harus mengambil tindakan konkret, bukan hanya mengeluarkan pernyataan kecaman,” ujar Harris.
Israel menghadapi kecaman yang semakin meningkat atas genosida di Gaza, di mana mereka telah menewaskan hampir 61.500 korban sejak Oktober 2023. Kampanye militer Israel telah menghancurkan wilayah kantong tersebut, yang menghadapi kematian akibat kelaparan. (Antara/WS05)
