Tim ahli penelitian dan pemugaran lanjutan situs megalitikum, Gunung Padang, di Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, memastikan usia situs mencapai ribuan tahun sebelum masehi. Bahkan, diduga sudah ada sebelum berdirinya kerajaan-kerajaan Sunda.
Ketua Tim Peneliti Situs Megalitikum Gunung Padang, Ali Akbar mengatakan, tim memang belum dapat memastikan nama peradaban atau kerajaan yang membangun situs punden berundak tersebut. Namun, ditemukan sejumlah corak seperti tapak harimau dan kujang.
“Awalnya tim menduga lekukan di batu berasal dari tetesan air pohon yang mengikis permukaan batu dalam waktu lama, namun seiring pengamatan lebih lanjut, beberapa bentuk dinilai terlalu spesifik dan berpola seperti bentuk kujang dan tapak harimau,” kata Ali, Rabu (06/08/2025).
Walau belum dapat menyimpulkan, tim sudah mengundang ahli petrografi guna memastikan apakah terbentuk secara alami atau justru hasil karya manusia pada masa lalu. Corak garis atau alur mungkin dapat dijelaskan secara petrologi, namun tapak hewan akan diteliti lebih dalam.
“Hasil diskusi awal bersama ahli geologi dan petrologi, beberapa lubang pada batuan diyakini terbentuk secara alami karena proses pendinginan lava yang menyisakan gelembung udara, namun untuk corak tertentu diperlukan kajian yang lebih mendalam,” ujar Ali.
Tantangan utama dalam mengungkap identitas peradaban pembuat situs karena tidak adanya bukti tertulis seperti prasasti atau catatan sejarah, sehingga proses penelusuran lebih kompleks dan membutuhkan kajian mendalam. Sementara, disebut sebagai masyarakat pembuat situs.
“Kemungkinan mereka adalah leluhur dari masyarakat yang tinggal sekarang, atau malah kelompok yang sama sekali berbeda,” kata Ali.
Ali memastikan, situs tersebut lebih tua dari Kerajaan-kerajaan Sunda. Meski begitu, belum diketahui secara pasti siapa pembuatnya karena sebelum masyarakat yang dikenal saat ini, kemungkinan sudah ada kelompok masyarakat lain yang pernah menghuni kawasan tersebut.
“Tapi, tidak menutup kemungkinan bentuk yang unik dan berbeda dari lekukan alami biasa di atas batu tersebut hasil tangan manusia prasejarah,” ujar Ali. (Antara/WS05)
