Rupiah Melemah Susul Kebijakan Baru The Fed di FOMC

Seorang warga sedang menghitung uang pecahan Rp 100.000.
Seorang warga sedang menghitung uang pecahan Rp 100.000.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi sikap pasar yang mencerna keputusan kebijakan terbaru Federal Reserve (The Fed). Terutama, dalam Federal Open Market Committee (FOMC) Juli 2025.

“Seperti yang diantisipasi, Fed mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah pada 4,25-4,50 persen,” kata Josua, Kamis (31/07/2025).

Bacaan Lainnya

The Fed merevisi prospek ekonomi AS dengan mencatat bahwa data terbaru menunjukkan moderasi dalam aktivitas ekonomi selama paruh pertama tahun ini. Artinya, bergeser dari karakterisasi pertumbuhan sebelumnya sebagai solid.

Dalam FOMC, dua pejabat The Fed, Christopher Waller dan Michelle Bowman, mendukung penurunan suku bunga pada Juli 2025. Yang mana, sempat meningkatkan ekspektasi pasar atas potensi penurunan suku bunga pada September 2025.

Namun, rilis data ekonomi AS baru-baru ini mendominasi sentimen pasar. Perekonomian AS tumbuh 3,0 persen quartal to quartal (QtQ) pada kuartal kedua 2025, melampaui perkiraan konsensus sebesar 2,4 persen QtQ.

“Kekuatan pasar tenaga kerja juga berlanjut, dengan laporan Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan peningkatan lapangan kerja yang lebih besar dari perkiraan, yaitu 104 ribu pada Juli 2025,” ujar Josua.

Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Kamis pagi di Jakarta melemah sebesar 23 poin atau 0,14 persen menjadi Rp16.428 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.405 per dolar AS. (Antara/WS05).

Temukan kami di Google News.