Saut Situmorang: KPK Harus Ditampar

Pimpinan KPK periode 2015-2019, Saut Situmorang, saat jadi narasumber dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (10/07/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pimpinan KPK periode 2015-2019, Saut Situmorang, saat jadi narasumber dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (10/07/2025). Foto: Wahyu Suryana

Komisioner KPK periode 2015-2019, Saut Situmorang, mengkritik kinerja KPK belakangan yang semakin tidak berani mengusut kasus-kasus korupsi besar, terutama yang menyangkut petinggi-petinggi negeri. Ia menilai, salah satu penyebabnya tidak lain Revisi UU Nomor 19 Tahun 2019.

“Memang kalau menurut saya KPK-nya mesti ditampari, sejak UU itu banyak persoalan, itu fakta loh, bahkan yang harusnya ditampari sampai masuk pengadilan sampai sekarang tidak ditampar, sudah jelas meras menteri, bekas ketuanya,” kata Saut dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (10/07/2025).

Bacaan Lainnya

Bagi Saut, kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh revisi UU KPK yang terjadi di era Presiden Jokowi ada di nilai-nilai yang seharusnya tertanam di KPK. KPK memiliki 9 nilai integritas, terdiri dari jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, berani, sederhana, kerja keras, dan adil.

Saut mempertanyakan, apakah pimpinan-pimpinan KPK sekarang jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, berani, sederhana, kerja keras, dan adil. Bahkan, di era-era sebelumnya semua elemen selalu diingatkan agar tidak pamer gaya hidup sebagai keprihatinan atas kondisi negeri.

Saut menekankan, seharusnya pimpinan-pimpinan KPK sekarang harus tahu diri untuk mundur jika tidak mampu melaksanakan semua nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, ia mengaku tertawa ketika melihat ada seorang pimpinan KPK naik helikopter untuk beraktivitas.

“Ketika nilai itu dirusak pasti semua rusak, strategi, sistem skill staf, kamu punya uang sekalipun UU mau lu ganti bullshit karena yang kamu rusak nilai, dan Jokowi tidak pernah sadar di situ,” ujar Saut.

Melihat ke belakang saat dirinya memimpin KPK, Saut mengaku, setiap kali datang ke kantor hanya memikirkan hubungan antara dia dan Tuhan. Ia merasa, sudut pandang itu membantu mereka berani menghadapi siapa saja dalam rangka pemberantasan korupsi di Indonesia.

Saut turut mengkritik pimpinan-pimpinan KPK kini yang takut bicara ke media. Padahal, ia menilai, pemberantasan korupsi sangat penting untuk bisa menginspirasi, dan berani bicara jadi bagian dari apa yang disebut sebagai transparan, akuntabel, dan bebas konflik kepentingan.

“Coba lihat dalam konferensi pers, ada tidak pimpinan KPK berani menjelaskan, dia harus berani transparan menjelaskan, ketika dia datang dengan Tuhan dia tidak peduli siapa pun, Pak Agus (Ketua KPK 2015-2019) datang dengan Tuhan-nya waktu Jokowi suruh hentikan kasus E-KTP,” kata Saut.

Dibanding hari ini, Saut berpendapat, tidak ada lagi pimpinan-pimpinan KPK yang memegang nilai-nilai integritas itu. Selain itu, ia mengaku heran, langkah pemberantasan korupsi kerap kali putus, tidak berkelanjutan, yang semuanya membuat Indeks Persepsi Korupsi semakin jatuh.

Menurut Saut, independensi jadi salah satu pembeda besar pimpinan-pimpinan KPK hari ini dan terdahulu. Malah, pimpinan-pimpinan KPK jadi semakin sering tidak merasa sungkan lagi untuk menemui orang-orang yang sedang berperkara, satu sikap yang sebelumnya sangat dihindari.

“Bahwa pimpinan KPK tidak boleh bertemu dengan orang yang ada kaitannya dengan perkara yang sedang ditangani dengan alasan apa pun, itu lima tahun. Oh, sorry, Pak saya ketemu dia, cuma ketemu di lift, tidak bisa, dengan alasan apa pun, itulah cara kita membentengi,” ujar Saut. (WS05)

Temukan kami di Google News.