Di YouTube Mahfud MD, Sudirman Said Bongkar Siapa Riza Chalid dan Sepak Terjangnya

Mantan Menteri ESDM, Sudirman Said, saat hadir di podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (15/07/2025). Foto: Wahyu Suryana
Mantan Menteri ESDM, Sudirman Said, saat hadir di podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (15/07/2025). Foto: Wahyu Suryana

Mantan Menteri ESDM, Sudirman Said mengungkapkan, nama tersangka kasus korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang Pertamina, Riza Chalid, sudah terdengar sejak dia masuk Pertamina sekitar 2008. Saat itu, Dirman akhirnya jadi Kepala Integrated Supply Chain.

ISC dibentuk untuk menghalangi atau memberantas mafia migas. Dirman menyebut, sejak dulu Riza Chalid dan perusahaan-perusahaan mereka memiliki porsi besar di Pertamina, sehingga ada ketergantungan. Bahkan, audit menemukan 70 persen kontrak di Petral jatuh ke mereka.

Bacaan Lainnya

“Jatuh ke perusahaan-perusahaan grup itu, dan itu tidak mungkin tidak ada intervensi, salah satu yang sekarang muncul sebagai tersangka ini orang yang sering ganggu unit ini, jadi tangannya sudah cukup kuat, sangat kuat di dalam, itu di masa Pertamina,” kata Dirman di podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (15/07/2025).

Saat jadi Menteri ESDM, Dirman membentuk Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang diisi tokoh-tokoh kredibel dipimpin (alm) Faisal Basri. Ada 12 rekomendasi dibuat dan semua dilaksanakan, termasuk melakukan audit investigasi kepada Petral yang pada akhirnya diputuskan dibubarkan.

“Sekarang (Riza Chalid) disebut sebagai penerima benefit terakhir, pemilik semua perusahaan-perusahaan itu yang selama ini terus mendominasi pasokan migas,” ujar Dirman.

Soal eksistensi Riza Chalid, ia menilai, dilihat dari sudut pandang control environment, sikap seorang pemimpin seperti Presiden bisa dilihat dari siapa yang diangkat atau diberhentikan. Terlebih, jika dia memihak kepada orang yang jadi sumber malah dan malah membiarkannya.

Kondisi itu yang membuat para pelaku kejahatan korporasi, termasuk pelaku-pelaku yang selama ini mengganggu Pertamina atau BUMN-BUMN lain, menjadi lebih percaya diri. Apalagi, selama ini mereka yang ingin membereskan kerap dikeluarkan dari posisi-posisi strategis.

Dirman menilai, revisi UU KPK menjadi salah satu contoh ekspresi keinginan dari penguasa karena akhirnya proses revisinya begitu cepat, dan dampaknya KPK mampu dilemahkan. Semua tindakan-tindakan itu menunjukkan tidak ada pemihakan terhadap penguatan tata Kelola.

“Dalam kasus Riza Chalid ini, saya kira dia hidup dan terus berada di sekitar kekuasaan karena kekuasaan memang saya kira bukan hanya membiarkan, tapi mungkin membutuhkan topangan karena memang secara ekonomi kuat sekali. Itu yang mungkin nanti bisa dibuktikan kalau tindakan mentersangkakan diteruskan dengan ditangkap, dibawa pulang, diadili,” kata Dirman.

Dirman khawatir, langkah pentersangkakan kepada Riza Chalid ini dilakukan hanya sebagai satu tekanan agar bisa bernegosiasi dengan penguasa yang baru. Pasalnya, sudah menjadi siklus lima tahunan seperti pada 2019 ingin dibereskan, 2014 ingin dibereskan, tapi berulang kali selamat.

Bagi Dirman, kasus ini bisa jadi ujian kepemimpinan dari Presiden baru karena pasti tidak sederhana. Terlebih, ia menambahkan, orang seperti Riza Chalid yang mampu selamat begitu lama, sepanjang waktu itu pasti memiliki ikatan-ikatan kuat dengan petinggi-petinggi politik.

“Kalau pengadilan mau dibuka dengan setransparan mungkin bisa saja Riza Chalid itu akan menyanyi, saya memberikan ini pada sini, menyumbang ini pada sini, jadi itu sesuatu yang menurut saya delicate, karena itu saya memprediksi tidak mudah ini menyelesaikannya,” ujar Dirman. (WS05)

Temukan kami di Google News.