Gubernur Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan cerita di balik layar kemenangannya dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2024. Ternyata, sejak penunjukkannya sebagai calon yang diusung PDIP bersama Rano Karno (Bang Doel), semua benar-benar terjadi secara tiba-tiba.
Pram menceritakan, semua berawal dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, pada Senin 26 Agustus 2024 sekitar 13.00 memanggilnya. Pram datang tanpa berpikir apa-apa karena pada Sabtu 24 Agustus 2024 sudah bersama Mega dan membicarakan nama Anies Baswedan.
“Saya sudah sampai telfon Mas Anies, Mas, selamat ya, mudah-mudahan semua lancar. Senin dipanggil, jam 1 saya datang langsung Ibu salaman, kamu saya tugaskan jadi Calon Gubernur Jakarta, Mba bercanda, engga saya serius, kamu sudah tak pegang tanganmu berarti ini sudah deal,” kata Pram dalam Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (24/05/2025).
Setelah itu, Pram menyampaikan penugasan itu kepada istrinya yang tentu sama-sama kaget. Pun kepada Joko Widodo yang saat itu Presiden, Pram yang merupakan Sekretaris Kabinet menyampaikan kalau dirinya akan maju sebagai Cagub Jakarta karena diminta Megawati.
Hal itu dilakukan karena Pram merasa secara etika harus menyampaikan itu kepada Jokowi terlebih dulu, bahkan sampai tiga kali Pram menghadap Jokowi untuk membicarakan itu. Ternyata, Pram mengungkapkan, jauh sebelum itu Jokowi sudah sempat memintanya maju.
“Tapi, kalau saya boleh cerita, sebenarnya orang yang pertama kali meminta saya untuk jadi gubernur adalah Pak Jokowi. Jauh hari ketika setelah Pak Prabowo menang di bulan Februari, mungkin di bulan Maret, April, beliau menyampaikan, Mas, supaya Jakarta tenang, mau tidak jadi gubernur, saya bilang engga” ujar Pram menyampaikan tawaran Jokowi kepadanya saat itu.
Alasannya, lanjut Pram, Waktu itu pasti lawan kotak kosong karena belum ada putusan MK. Selain itu, Pram mengaku ingin memiliki Waktu bersama cucunya. Tapi, keinginan Pram itu runtuh karena keteguhan Megawati, ditambah Rano Karno yang meyakinkannya untuk maju.
Pada kesempatan itu, Pram turut menyampaikan nilai-nilai yang dipegangnya untuk senantiasa berpolitik bersih. Salah satunya menahan diri dan menahan tim kampanye agar tidak mengurus lawan-lawan, termasuk tidak mengomentari polemik soal ‘janda’ yang sempat ramai saat itu.
“Kita sudah tidak mau tau apa yang mereka lakukan, bahkan didebat pun ketika Bang Doel agak panas saya sampai pegang, Bang ga usah Bang, Bang ga usah Bang, karena bagi saya tidak akan nambahin suara, tidak akan membuat kita jadi kelihatan lebih menang, lebih jago, inilah satu-satunya yang membedakan saya sama Prof Mahfud, kalau samping saya tidak,” kata Pram.
Cerita di balik layar itu diamini Mahfud yang saat itu sedang sering ke rumah Megawati dan tiap kali datang biasanya bertemu dan berbincang bersama Pram terlebih dulu. Selama itu, Mahfud menyampaikan, tidak pernah Megawati membicarakan nama Pram untuk maju di Jakarta.
Maka itu, ia menegaskan, apa yang disampaikan Pram soal sama sekali tidak menyiapkan apa-apa memang benar. Menjadi saksi ketulusan Pram, Mahfud mengaku tetap terkejut, saat Pram-Rano ternyata ke luar sebagai pemenang Pilgub Jakarta 2024 bermodal elektabilitas 0,1 persen.
“Itu berapa persen surveinya, 0,1, Ridwan Kamil sudah tinggi waktu itu, tidak menyangka sama sekali, ya sudah itu agar menjaga harga diri PDIP saja biar calonnya ada daripada tidak punya calon, kira-kira begitu, taunya satu putaran. Setelah Mas Pram agak naik, ya Mas Pram ini bisa masuk dua putaran tapi tetap kalah, hitung-hitungan kita, taunya satu putaran,” ujar Mahfud. (*)
