Pakar hukum tata negara, Feri Amsari, mengkritisi kelakukan menteri-menteri yang masih menyatakan kalau mantan presiden, Joko Widodo, sebagai bos mereka. Ia mengatakan, Pasal 17 UUD secara eksplisit sudah menyatakan kalau menteri-menteri itu merupakan pembantu presiden, bukan mantan presiden.
Artinya, ia menekankan, bos mereka hanya satu yaitu Presiden Prabowo Subianto. Bagi Feri, kelakuan menteri-menteri di Kabinet Merah Putih seperti itu menjadi tontonan yang tidak baik, meninggalkan kejanggalan-kejanggalan, lalu merusak cakrawala ketatanegaraan dan politik santun dalam bernegara.
“Itu merusak Pasal 17 UUD, merusak Undang-Undang Kementerian Negara, bahwa para menteri itu pembantu presiden, bertanggung jawab dan diberhentikan oleh presiden, bukan pembantu mantan presiden,” kata Feri dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (24/04/2025).
Hari ini, ia menegaskan, bos atau atasan atau majikan dari menteri-menteri itu hanya satu, Presiden Prabowo. Karenanya, Feri menyampaikan, apapun analogi yang digunakan menteri-menteri setelah perilaku mereka menokohkan orang lain sebagai bos menjadi bacaan yang tidak sehat bagi publik.
“Bagi saya ada banyak hal yang janggal yang harusnya bagi kita semua meminta Pak Joko Widodo sadar diri, Anda mau jadi negarawan, kan salah satu step berikutnya dari seorang presiden menjadi negarawan bangsa karena dianggap sudah selesai dalam banyak hal, dan bisa memberikan contoh baik,” ujar Feri.
Menurut Feri, ada kondisi yang sangat janggal ketika ada Prabowo Subianto, presiden yang saat ini sedang berkuasa, tapi malah ada sosok lain yang merupakan mantan presiden, Joko Widodo, terus diberitakan. Bahkan, tidak jarang berita-berita Presiden Prabowo kerap tertutup kabar-kabar mantan presiden, Jokowi.
“Ini ada mantan presiden tiap hari diberitakan, macam macam beritanya, ada orang antri sembako, orang silaturahmi, ada soal anaknya, soal ijazah, geng motor (datang), polisi datang, menteri datang,” kata Feri.
Selain itu, Feri menyampaikan keheranan soal Jokowi yang merupakan mantan presiden tapi yang masih memiliki kabinet di pemerintahan yang baru. Pasalnya, 50 persen dari orang-orang yang mengisi Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo, merupakan orang-orang yang dulu ada di pemerintahan Joko Widodo.
“Itu sudah tidak masuk akal, itu mungkin pertama di dunia, 50 persen berbondong-bondong dengan jumlah kabinet yang sangat besar, itu sudah tidak masuk akal, apakah orang orang ini utusan mantan presiden Joko Widodo di Presiden Prabowo, sampai sekarang remain as mistery,” ujar Feri.
Feri turut mengomentari sikap Presiden Prabowo yang seperti membiarkan sorotan lampu tertuju kepada Jokowi. Menurut Feri, seharusnya Presiden Prabowo sebagai orang yang berkuasa sudah terlepas dari bayang-bayang presiden yang sudah lengser, sekalipun pernah berjasa menambahkan dukungannya.
“Kalau bicara jasa Jokowi besar, iya, diakui dengan berbagai terima kasih. Pertanyaan timbul berikutnya, apakah dengan posisi wakil presiden anak Jokowi belum cukup sebagai tanda terima kasih Pak Prabowo,” kata Feri.
Intelektual, Hamid Basyaib menambahkan, kondisi seperti Presiden Prabowo dan mantan presiden Jokowi memang belum pernah terjadi di dunia. Bagi Hamid, bahwa kemenangan Prabowo ditopang dan didukung Jokowi semua orang sudah tahu, tapi tidak cukup masuk akal jika itu yang landasi sikap toleran Prabowo.
Bahkan, bagi Hamid, sikap toleran Prabowo yang membiarkan menteri-menteri berperilaku seperti itu kepada Jokowi bisa dibilang sudah berlebihan. Karenanya, ia menilai, tidak terlalu mengagetkan kalau public menerka rahasia apa yang dipegang Jokowi sampai bisa membuat Prabowo bersikap seperti itu.
“Apa ada satu rahasia yang besar sekali yang disimpan atau dijadikan kartu truf atau bargaining chip oleh Joko Widodo, ini tidak ada yang bisa jawab, sejauh ini, mungkin sejarah nanti, sekian puluh tahun nanti,” ujar Hamid. (*)
