Cerita Retno Marsudi: Dulu Sisakan Lauk untuk Dibungkus, Kini di PBB Jadi Utusan Khusus

Mantan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi dan mantan Menkopolhukam, Mahfud MD, dalam Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (26/04/2025). Foto: Wahyu Suryana
Mantan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi dan mantan Menkopolhukam, Mahfud MD, dalam Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (26/04/2025). Foto: Wahyu Suryana

Mantan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, mengungkapkan perjalanan panjang karirnya yang dimulai dari keinginan menjadi diplomat. Keinginan datang karena Retno muda sering menonton diplomat-diplomat dari Dunia Dalam Berita, salah satu program lawas di TVRI.

“Cerita mengenai para pemimpin, para diplomat, bernegosiasi, memakai jas, naik pesawat, karena saya anaknya orang yang biasa banget, i was nobody, jadi melihat optic itu menjadi sebuah mimpi, menjadi sebuah cita-cita yang aku ingin kejar,” kata Retno saat menjadi tamu dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu 26/04/2025).

Perjalanan Retno tidak mudah. Retno yang berasal Semarang memutuskan kuliah di Yogya, UGM, dan tentu harus menerapkan gaya hidup super hemat. Bahkan, ia mengenang, dirinya bisa makan di restoran-restoran besar hanya saat ada temannya yang kaya berulang tahun.

“Saya tuh masih ingat banget, kalau mau makan di Ny Suharti nunggu anaknya orang kaya ulang tahun dan biasanya itu anak Jakarta, ke Ny Suharti itu perbaikan gizi yang luar biasa,” ujar Retno.

Seperti anak-anak kuliah pada zamannya, Retno harus mengetik paper (semacam skripsi) menggunakan mesin tik atau mesin ketik. Artinya, setiap kali ada kesalahan yang ditemukan dosen-dosen pembimbing, harus dihapus menggunakan tipe x atau papernya diketik ulang.

Selain itu, Retno menyebut, ada satu tradisi yang tampaknya sudah dimaklumi pemilik kos atau pemilik warung makan saat itu, utang. Pasalnya, jika sudah akhir bulan, anak-anak kos tidak memiliki uang karena menunggu kiriman wesel atau layanan kirim uang di kantor Pos.

“Jadi, sudah ada permakluman umum ibu-ibu kos, ibu-ibu yang dagang itu, maklum banget ke mahasiswa, kalau sudah lebih tanggal 20, kalau teman-teman saya yang dari Sumatera, itu SIM-nya di mana, KTP-nya di mana, terus kadang-kadang celana jeans-nya di mana,” kata Retno.

Retno yang sejak usia 23 sudah ditarik Kemenlu ternyata masih menjalani perjuangan yang tidak mudah saat pertama kerja di Jakarta. Retno yang gajinya Rp 57.000 harus bisa super hemat karena gaji sudah cukup terpakai untuk kos Rp 25.000 dan transportasi Rp 12.500.

Misalnya, setiap kali membeli bakso Retno selalu meminta agar kuahnya banyak agar bisa dimakan memakai nasi atau dimakan lain waktu. Bahkan, setiap kali mendapat makan siang ketika pendidikan diplomat, Retno harus menyisakan lauk-lauk kering untuk dibawa pulang.

“Misalnya, balado telur sama ayam goreng, balado telur aku makan, ayam gorengnya aku bungkus tisu, aku bawa pulang ke kos, jadi malamnya aku hanya beli nasi untuk dimakan dengan ayam. Kalau tidak ada lauk untuk dibawa pulang, malam itu saya ke warung tegal, nyebrang rel, beli makan nasi pisah, kenapa, separuh dimakan malam itu, separuh besok,” ujar Retno.

Usaha tidak menghianati hasil. Setelah beberapa kali jadi duta besar, Retno mendapatkan amanah menjadi Menteri Luar Negeri pada 2014-2019 dan 2019-2024. Kini, Retno sibuk di PBB dan jadi orang Indonesia pertama yang ditunjuk sebagai Utusan Khusus Sekjen PBB.

Di Ruang Sahabat, Retno turut mengungkap kenangannya bekerja sebagai Menlu. Salah satunya ketika harus bekerja sama dengan Mahfud MD yang pada 2019-2024 menjadi Menkopolhukam. Menurut Retno, integritas Mahfud MD membuatnya nyaman bekerja sama.

“Saya belum apa-apa beliau pejabat, rezeki saya saja bisa dalam satu tim dengan beliau, dari rekam jejak beliau saya berkesimpulan, oh beliau adalah orang yang punya integritas, deserve untuk mendapatkan penghormatan dari kita, jadi nyaman dengan beliau bekerja,” kata Retno. (*)