Bukan MBG, Komika-Komika Ini Sarankan Presiden Prabowo Prioritaskan Pendidikan

Komika, Akbar Falah, mempertanyakan program-program Presiden Prabowo yang sampai saat ini belum memberikan prioritas terhadap dunia pendidikan. Salah satu yang Falah soroti tidak lain kenaikan gaji guru yang sebenarnya malah sempat dijanjikan langsung Presiden Prabowo, tapi masih jadi angin lalu.

“Kalau saya mungkin yang ingin sekali saya tanya kenapa untuk pendidikan itu tidak menjadi prioritas utama, kenapa. Misal, gaji guru saja, semestinya bukan hal yang sulit untuk Indonesia mendanai itu,” kata Falah dalam program Sate Demokrasi di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (03/04/2025).

Falah turut menyoroti langkah Presiden Prabowo yang malah memprioritaskan program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak-anak sekolah. Terlebih, ia mengingatkan, pelaksanaan MBG sejauh ini masih dipenuhi dengan kontroversi yang dipertanyakan kelayakannya untuk terus dilaksanakan.

Dengan belum diprioritaskan dunia pendidikan, Falah merasa, cukup wajar jika beberapa waktu lalu muncul seruan-seruan seperti Indonesia Gelap atau Kabur Aja Dulu. Bahkan, seruan-seruan itu didengungkan langsung oleh generasi muda, bahkan oleh Generasi Z yang selama ini dipandang cukup apatis.

Falah turut mengingatkan ada negara-negara besar seperti Swiss yang perhatiannya kepada dunia pendidikan begitu besar, bisa menggaji guru sampai 60 jutaan per bulan. Perbandingan ini dirasa cukup adil mengingat pemerintah kerap mengklaim program-program seperti MBG meniru kesuksesan di Eropa.

“Kayak MBG, dari semua kontroversi yang ada apa itu masih layak untuk diteruskan, Kenapa mungkin tidak dialihkan entah itu pendidikan atau mungkin kesehatan, kenapa akhirnya prioritasnya malah ke sana, apakah memang semata-mata terlanjur janji, atau ada alasan lain, penasaran saja sih,” ujar Falah.

Senada, komika, Yudha Brajamusti mengingatkan, negara-negara maju seperti Jepang ketika mengalami serangan bom atom Hiroshima dan Nagasaki langsung mencari guru-guru mereka yang selamat. Hal itu membuktikan kalau Jepang begitu memikirkan dunia pendidikan terlebih dulu dibanding hal-hal lain.

Yudha menyayangkan, Indonesia yang kerap mengaku memiliki keinginan menjadi negara maju, serta memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang jauh lebih besar tidak mau belajar. Bahkan, tidak mau meniru negara-negara maju seperti Jepang yang begitu memprioritaskan dunia pendidikannya.

“Saya ingat waktu Jepang di bom Hiroshima, itu Jepang kan langsung mencari guru-guru, siapa yang selamat. Itu kan berarti membuktikan kalau Jepang yang dipikirkan pendidikan dulu untuk memperbaiki kerusakan pada waktu perang dunia. Kita sampai sekarang saja belum untuk memikirkan,” kata Yudha.

Selain itu, Yudha mengkritisi cara kolot pemerintahan Presiden Prabowo yang ketika akan mengeluarkan kebijakan kerap menggunakan metode ‘cek ombak’ terlebih dulu untuk melihat reaksi publik. Antara lain kebijakan-kebijakan kontroversi seperti kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen dan lain-lain.

Jika dilihat ada tekanan dari publik atau publik memberikan reaksi yang keras, Presiden Prabowo sendiri yang baru akan ke luar sebagai pahlawan untuk membatalkan kebijakan-kebijakan tersebut. Bahkan, Yudha merasa, kasus plagiat yang dilakukan Menteri Bahlil tidak akan dibatalkan jika tidak ada tekanan publik.

“Mungkin yang kemarin kasus kasus plagiat itu karena tekanan publik. Apa tidak ada cara lain untuk, ya kalau memang salah ya salah, jangan pakai cek ombak dulu publik diam atau tidak, apalagi sekarang publik sudah semakin melek, jadi sebenarnya kayak cek ombak cek ombak begitu ditinggalkan,” ujar Yudha. (*)