Setop Ciptakan Sandwich Generasi, Anak bukan Investasi !

Istilah sandwich generation belakangan semakin sering muncul sebagai satu masalah baru, khususnya di kalangan Gen Z. Itu merupakan sebutan untuk mereka yang harus menanggung beban hidup orang tua, anak, bahkan pasangannya atau saudaranya.

Selayaknya roti lapis, posisi mereka terjepit dengan kebutuhan-kebutuhan yang harus mereka penuhi. Banyaknya tuntutan orang-orang sekitar membuat tidak sedikit dari mereka harus mengalami masalah finansial, bahkan gangguan-gangguan emosional.

Cendekiawan, Hamid Basyaib, mengkritisi cara pandang dari banyak orang tua yang melihat anak-anak mereka sebagai investasi. Sebab, ia mengingatkan, itu membuat mereka banyak memberi tuntutan-tuntutan atau beban-beban berat kepada anaknya.

“Orang tua kebanyakan demanding, dalam arti dia menganggap anaknya itu investasi, dia merasa sudah invest banyak, dari melahirkan, susunya, segala macam dihitung,” kata Hamid dalam Poker di kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (02/04/2025).

Hamid melihat, orang tua yang seperti itu akan merasa sudah ke luar banyak uang untuk menghidupi anak-anak mereka, sehingga harus ada imbalan atau balasan. Ia berpendapat, pendekatan itu sangat salah dan orang tua tidak seharusnya begitu.

Terlebih, Hamid menyampaikan, anak tidak dapat pula memilih lahir dari orang tua yang mana. Selain itu, Hamid turut mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia yang sejak anak-anak kecil sampai mereka sarjana tidak diajarkan kecerdasan finansial.

“Mungkin karena pendidikan itu dianggap sesuatu yang luhur dan keuangan dianggap sesuatu yang buruk, dekat dengan kejahatan, dekat dengan lupa diri dan sebagainya, sehingga lembaga pendidikan dibikin steril dari urusan-urusan keuangan,” ujar Hamid.

Perencana keuangan dan pendiri finansialku.com, Melvin Mumpuni menyarankan, orang tua untuk mulai mendengarkan keluh kesah anak. Lalu, bagi mereka yang jadi sandwich generation, disarankan untuk mulai terbuka tentang kondisi yang dihadapi.

Melvin merasa, keinginan untuk menabung, menikah, membeli rumah merupakan hak masing-masing individu yang sebenarnya tidak apa-apa disampaikan ke orang tua. Ia menekankan, rasa tidak enak kerap membuat anak jadi tertutup atas apa yang dirasa.

“Ceritakan saja, tapi itu yang paling susah, ngomong sama orang tua. Kenapa susah, orang Indonesia susah untuk mendengar, semua orang mau bicara tapi tidak mau mendengar, langsung kamu tidak berbakti kalau kamu tidak bantu, dengarkan dulu,” kata Melvin.

Jika anak sudah mampu menceritakan dan orang tua sudah mau mendengarkan, baru bisa dicari kemungkinan-kemungkinan sebagai solusi. Menurut Melvin, kedua langkah awal itu memang harus dilakukan untuk memutus mata rantai sandwich generation.

“Kasih tahu ada masalah, ada situasi seperti ini, itu langkah pertama saja, tapi ini yang paling susah. Ketika menangani kasus generasi sandwich yang paling susah bukan di teknis keuangannya, tapi di komunikasi nomor satu, open, ceritakan situasinya begini,” ujar Melvin. (*)