Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengatakan, inti dari 30 hari berpuasa bagi umat Islam tidak lain menahan diri, menahan hawa nafsu. Karenanya, jika bulan suci Ramadan dianggap sebagai bulan reparasi diri, setelahnya kita harus bisa menahan diri untuk tidak tamak, serakah dan berbuat sewenang-wenang.
Apalagi, ia menekankan, inti dari hidup merupakan bertakwa, dan dikatakan perintah berpuasa agar kamu bertakwa. Bagi Mahfud, inti dari takwa itu menahan diri dari perilaku-perilaku serakah, membohong, dan menipu, serta membuat kita takut terhadap akibat-akibat yang timbul dari setiap perbuatan tidak baik.
“Saya selalu percaya setiap perbuatan tidak baik itu akan menyebabkan kamu sengsara, akan mengalami neraka bukan hanya di akhirat nanti, tapi di dunia pun sudah muncul balasan-balasan Tuhan, dan tuntunan alam orang yang tidak baik akan celaka dalam hidupnya, hanya menunggu waktu, penuh ketakutan, penuh derita,” kata Mahfud dalam podcast Terus Terang di kanal YouTube Mahfud MD Official, Senin (31/03/2025).
Mahfud menceritakan kisah nyata pejabat korup yang setiap kali nego-nego untuk korupsi didengarkan supirnya. Dengan informasi itu, si supir sampai berani selingkuh dengan istri si pejabat, dan walau tahu supirnya sering ke kamar istrinya, si pejabat tidak berani apa-apa karena takut korupsinya dibongkar.
“Ngeri kan begitu, akibatnya, real story, pernah dimuat di majalah Tempo, kawin dengan supirnya, tidak diapa-apain, supirnya kawin tapi tidak berani dia menegur karena supir itu punya kartu, korupsinya kamu dengan siapa, istrinya dilapori, neraka dunia kan, hartanya banyak di rumah tersiksa begitu,” ujar Mahfud.
Mahfud pernah pula didatangi seorang teman ketika ke Malang, yang tiba-tiba menangis, bahkan sampai bersimpuh ke lututnya sambil meminta maaf. Orang itu ternyata meminta maaf lantaran merasa sudah mempermalukan almamater karena dia merupakan pejabat yang ditangkap dan dipenjara karena korupsi.
Kepada Mahfud, orang itu mengaku tidak bersalah karena tanda tangan yang diberikannya karena disuruh kepala daerah yang merupakan atasannya. Dia disuruh membagi-bagi proyek bantuan rakyat ke anggota-anggota DPR, yang ternyata mereka semuanya bohong, bahkan menggunakan proposal kegiatan palsu.
Walau mengaku sudah meminta atasannya yang merupakan kepala daerah itu membuat disposisi, tapi permintaan itu ditolak dan akhirnya dirinya yang memberi tanda tangan. Akhirnya, sekalipun apa yang dilakukan itu perintah kepala daerah secara lisan, dirinya yang masuk penjara usai kasus itu terbongkar.
Orang itu menceritakan, kalau sebelum dipenjara anaknya santri saleh yang selalu berprestasi di SD, SMP, SMA, namun menghilang usai mendengar kabar ayahnya ditangkap karena korupsi. Setelah bebas, orang itu mencari dan akhirnya menemukan anaknya sudah berpenampilan dan berperilaku seperti penjahat.
“Betapa sedihnya siksaan dunia. Ada lagi teman kita, korupsi, anaknya pakai moibil dengan teman-teman, disetop polisi, ini kamu turun, apa saya punya surat-surat, SIM ada, STNK ada, tidak ini bukan urusan surat, STNK, mobil ini disita negara, bapakmu jadi tersangka korupsi, ambil, apa tidak sakit, itu neraka dunia itu,” kata Mahfud.
Mahfud turut menceritakan kisah seseorang yang terpaksa menikahkan anaknya, membacakan ijab kabul dengan kedua tangan diborgol karena dia dipenjara. Mahfud mengingatkan, itu merupakan karma hidup dan siksaan Tuhan di dunia yang bisa diberikan atau dialami orang-orang yang berbuat tidak benar.
“Hadits Nabi yang sering saya bacakan, setiap dari dagingmu yang tumbuh dari makanan haram, yang diperoleh dengan cara haram, maka akan menjadi neraka bagi hidupmu, bagi hidupmu. Tidak usah menunggu akhirat, akhirat lain lagi nanti, kehidupan dunia sudah tidak enak,” ujar Mahfud. (*)
