Tempo Diteror, Mahfud MD: Keterlaluan! Teror terhadap Profesi yang Sangat Dihormati di Negara Demokrasi

tampilan web tempo.co

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, angka bicara tentang aksi teror yang diterima Tempo berupa paket berisikan bangkai kepala babi dan bangkai tikus. Mantan Menkopolhukam itu menyebut, itu menjadi teror terhadap profesi yang seharusnya sangat dihormati di negara yang menganut demokrasi seperti Indonesia.

“Ya keterlaluan kalau kata yang mungkin agak halus ya, keterlaluan karena itu jelas-jelas merupakan teror terhadap profesi seseorang yang itu sangat dihormati oleh kita yang menganut negara demokrasi. Kita kan butuh kalau bisa semua media itu bersikap kritis, positif dan obyektif,” kata Mahfud dalam kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (23/03/2025).

Ia menilai, dalam situasi sekarang nampaknya media konvensional sudah hampir kehilangan daya kritis itu. Bagi Mahfud, di antara sangat sedikit perusahaan-perusahaan pers yang sekarang kritis tinggal Tempo yang bisa kita harapkan memberi pengimbang terhadap hegemoni pemberitaan yang nampaknya kurang obyektif.

Mahfud merasa, Tempo tidak hendak mengganggu jalannya pemerintahan. Justru, adanya kritik-kritik yang bisa menjadi pembanding, informasi pembanding bagi pemerintah atau pembanding bagi masyarakat atas apa yang dilakukan pemerintah dan perjalanan bangsa ini malah sangat diperlukan bagi kemajuan negara.

“Supaya informasi tidak seragam dan lebih sesuai dengan apa yang tergambar di tengah masyarakat. Sekarang ini harus kita akui bahwa banyak hal-hal yang terjadi di masyarakat tidak tergambar dalam pemberitaan, terutama kalau menyangkut kebijakan pemerintah yang dikritik,” ujar Mahfud.

Misalnya, sampai Sabtu malam aksi-aksi demonstrasi yang menolak Revisi UU TNI atau pengesahan UU TNI itu masih berlangsung. Di Bandung saja sampai malam sekali aksi-aksi demo masih ramai, bahkan sampai terjadi pembakaran gedung-gedung bank asing, tapi tidak ada media-media konvensional memberitakan.

Masyarakat, lanjut Mahfud, mengetahui hanya dari media sosial, dari orang ke orang, yang tentu kondisi ini tidak sehat. Padahal, mungkin saja orang yang masih demo tidak puas atas prosesnya bukan produknya karena proses yang berlangsung diam-diam mungkin membahayakan masa depan perjalanan demokrasi.

Semua itu perlu diberitakan, bukan untuk memprovokasi, tapi untuk memberi tahu ke masyarakat bahwa ada masalah yang oleh segmen masyarakat tertentu dianggap serius. Biasanya, Mahfud menekankan, yang bisa melakukan tugas memberitakan itu Tempo dan masyarakat biasa mencari konfirmasinya ke Tempo.

“Jadi sangat disesalkan kalau Tempo sampai diteror dengan cara ini, bagaimana pun orang menganggap teror, kan jelas kan alamatnya jelas, kalimatnya jelas bahwa itu teror, kamu akan diteror sampai mampus,” kata Mahfud.

Mahfud menyampaikan, kalau ada orang mengatakan itu sebagai teror memang sangat logis dan itu bukan mengada-ada bahwa telah terjadi teror atas sebuah profesi yang seharusnya dihormati. Pasalnya, Tempo selama ini sangat berani membuka hal-hal yang menurut orang sulit didapat dari media konvensional lain.

Padahal, sejauh ini Tempo sendiri terbuka terhadap kritik. Misalnya, ketika menghadapi berita-berita yang menyebut Tempo dibiayai asing, dibiayai oleh George Soros. Tempo tidak marah-marah, malah menjawab secara proporsional seperti membalas dengan jawaban kalau begitu pemerintah pun dibiayai asing.

“Tidak ada yang salah kerja medianya, yang salah yang menteror, yang salah yang melemahkan posisi pers itu karena dalam teori politik, demokrasi punya empat pilar, legislatif yang buat aturan, eksekutif yang melaksanakan, yudikatif yang mengadili, pers yang mengawasi, dari unsur masyarakat bisa melakukan pengawasan lewat pers. Oleh sebab itu diakui pers itu sebagai pilar keempat dalam demokrasi,” ujar Mahfud. (*)

Temukan kami di Google News.