Pernyataan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Hasbi, soal kiriman kepala babi dan bangkai tikus ke Tempo dari orang tidak dikenal menuai kecaman. Hasan, yang merupakan juru bicara Presiden RI, menuai sorotan publik karena begitu meremehkan ancaman teror yang diarahkan kepada pers tersebut.
Cendekiawan, Hamid Basyaib, turut menyoroti pernyataan-pernyataan pejabat publik di Indonesia yang selama ini kerap dangkal. Bahkan, jurnalis dan penulis senior tersebut berpendapat, pernyataan demi pernyataan yang dikeluarkan pejabat kita tidak jarang malah tampak melecehkan intelektualitas publik.
“Ini kelihatannya urusan sepele tapi sebetulnya sangat penting. Saya suka heran mendengar statement pejabat yang secara umum sangat dangkal dan sering bernada melecehkan intelektualitas publik,” kata Hamid dalam program Perspektif di kanal YouTube Mahfud MD Official, Jumat (21/03/2025).
Ia menyampaikan, masyarakat setiap hari bisa melihat sendiri seperti apa kualitas pernyataan-pernyataan pejabat yang sangat tidak sebanding dengan posisinya yang sangat tinggi dalam sistem kenegaraan kita. Pun elite-elite partai politik yang dirasa kerap melontarkan pernyataan-pernyataan yang sangat dangkal.
Tidak sedikit mereka menyampaikan guyon-guyon yang begitu garing, lelucon-lelucon yang sama sekali tidak lucu. Secara umum, Hamid menilai, pernyataan-pernyataan pejabat kita serap tidak menginspirasi, sama sekali tidak membangun satu motivasi tertentu di mata publik yang tentu menyaksikan mereka.
“Kenapa saya sebut inspirasi, karena itu elemen penting dalam pidato atau statement pejabat negara, inspiring, menginspirasi orang, karena salah satu kerja utama mereka justru adalah menginspirasi public,” ujar Hamid.
Bagi Hamid, watak menginspirasi sangat penting dalam pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan pejabat. Sebab, ia menekankan, hari ini tantangan bagi pejabat-pejabat itu tidak lain membangun narasi yang kuat dan sesuai konteks pembangunan bangsa ke depan, bukan sekadar agar pendengarnya merasa senang.
Hamid menyarankan, pejabat-pejabat rasanya perlu merenungkan lagi dan tidak sungkan-sungkan untuk belajar. Apalagi, sudah begitu banyak sumber-sumber pelajaran yang gratis dari seluruh dunia, bahkan ada di ponsel-ponsel pintar mereka, tentang bagaimana pejabat harus bersikap dan berbicara di depan publik.
Ia menegaskan, menjadi pembicara publik yang baik merupakan tugas kenegaraan yang sangat penting dari pejabat-pejabat publik. Sebab, kata-kata baik yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan pejabat tentu saja bisa menginspirasi publik, dan kata-kata yang buruk akan menimbulkan efek yang buruk pula.
“Sebaliknya, kalau kata-katanya buruk, dangkal, meleceh dan sebagainya itu menimbulkan efek yang sebaliknya pada berjuta-juta rakyat Indonesia. Jadi, berhati-hatilah, Anda semua masih punya peluang yang besar untuk menyampaikan satu pidato yang bermutu dan inspiring, dan mengeluarkan statement-statement yang meaningful, bermakna, menghormati kecerdasan public,” ujar Hamid. (*)
