Intelektual, Hamid Basyaib mengatakan, kasus korupsi minyak mentah membuat Pertamina benar-benar dipaksa untuk berbenah diri karena saat ini kondisi mereka di mata publik sudah dalam level survival atau bertahan hidup. Apalagi, ia mengingatkan, boikot diam-diam oleh publik sebetulnya sudah berlangsung,
“Dan terjadi untuk alasan yang mudah dimengerti, ditipu, dikhianati, cintanya kan dikhianati, cinta publik kepada Pertamina,” kata Hamid dalam Poker di kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (05/03/2025).
Ia menilai, sampai titik ini saja boikot diam-diam yang dilakukan publik pasti sudah membuat penurunan penjualan di Pertamina, paling tidak penurunan di level eceran. Hamid mengaku tidak yakin Pertamina bisa bertahan jika boikot diam-diam ini dibiarkan terus berlangsung selama beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, ia melihat, kompetitor-kompetitor Pertamina yang datang dari negara-negara lain jumlahnya semakin banyak. Hamid merasa, publik hari ini sudah tidak bisa didorong, didesak, atau dibujuk untuk mengutamakan produk dalam negeri atau perusahaan dalam negeri karena sudah tidak rasional lagi.
Hamid menjelaskan, itu tidak lagi rasional karena produk yang dijual sebagai produk dalam negeri itu harganya tidak murah dan kualitasnya tidak cemerlang pula. Karenanya, ia berpendapat, tidak mungkin imbauan-imbauan berlabel nasionalistik itu bisa diandalkan untuk menarik minta beli masyarakat luas.
“Satu-satunya yang mungkin bisa menyelamatkan pertamina adalah memperbaiki diri seccara sungguh-sungguh dan progress itu ditunjukkan ke public, kalau perlu per minggu, minggu ini ini yang dilakukan,” ujar Hamid.
Bahkan, ia menekankan, kalau perlu laporan-laporan perbaikan itu disampaikan kepada public per hari. Karenanya, Hamid menyampaikan, ini memang kerja public relation besar-besaran, tapi public relation dalam arti positif, bukan sekadar public relation untuk pencitraan, tapi perbaikan sungguh-sungguh.
Hamid menyarankan, salah satu langkah baik yang bisa dilakukan tidak lain penerapan e-katalog agar ada laporan perbaikan sesering mungkin yang dapat dipantau publik. Jika tidak, ia khawatir, prospek ke depan bagi Pertamina cukup suram karena public yang kepercayaannya telah rusak tidak melaihat ada perbaikan.
“Itu harus dilaporkan terus kepada publik sesering mungkin sampai kelihatan, kalau tidak menurut saya prospeknya cukup suram buat Pertamina,” kata Hamid.
Hamid turut mengutip apa yang beberapa kali disampaikan pakar hukum tata negara, Mahfud MD, bahwa seluruh teori tentang pemberantasan korupsi sudah dikerahkan, tapi penegakannya masih tumpul. Hal itu kata Hamid, membuat Mahfud berpendapat kalau harapan satu-satunya tinggal ada di Presiden Prabowo.
Terlebih, Hamid menambahkan, secara teori semua sudah mengerti, dari sudut ekonomi, dari sudut hukum dan dari sudut-sudut lain sudah diketahui. Tapi, semuanya tidak ada yang mempan dan kasus korupsi minyak mentah Pertamina ini jelas sekali menjadi satu demonstrasi luar biasa dari itu semua.
“Dan kita belum tahu skandal seperti di Patra Niaga yang terakhir, belum apa-apa sudah lagi ada di sawit, ada yang sebut Rp 300 t, sebelumnya di Timah, sebelumnya internal Kementerian Keuangan. Kita dijejali angka-angka yang fantastis soal korupsi, sekali lagi menurut ukuran negara paling kaya pun di dunia ini, itu angka yang luar biasa besar,” kata Hamid. (*)
