Ray Rangkuti: Asal Pak Prabowo Serius Berantas Korupsi, tidak Perlu Efisiensi

Pengamat politik, Ray Rangkuti, menyoroti kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan Presiden Prabowo Subianto. Padahal, ia menilai, jika Presiden Prabowo serius untuk melakukan pemberantasan korupsi, tidak tebang pilih, sebenarnya langkah-langkah efisiensi anggaran tidak diperlukan untuk menjalankan program.

“Menurut saya, kalau sebetulnya Pak Prabowo serius memberantas korupsi saja, tidak perlu harus lakukan efisiensi-efisiensi dengan cara seperti ini. Ada Rp 270 triliun (kasus korupsi timah) ditilep satu orang, itu aja kejar semua,” kata Ray dalam Sate Demokrasi di kanal YouTube Mahfud MD Official, Jumat (28/02/2025).

Namun, ia menekankan, dalam rangka melakukan pemberantasan korupsi jangan pula Presiden Prabowo malah memberi janji-janji agar ada pembatalan hukuman bagi koruptor. Ray mengingatkan, kebijakan-kebijakan seperti itu hanya akan membuat masyarakat marah, seperti yang terjadi belakangan ini.

Ray menyebut aksi-aksi demonstrasi bertajuk ‘Indonesia Gelap’ yang dilakukan mahasiswa hampir di seluruh Indonesia sebagai contoh kemarahan masyarakat. Selain itu, ada tagar #kaburaja dulu yang didengungkan netizen, bahkan diinisiasi anak-anak muda yang khawatir akan masa depan mereka.

Padahal, ia mengingatkan, Nabi Muhammad SAW saja sebenarnya sudah memberi contoh penegakan hukum yang tidak tebang pilih, menjamin anak kandungnya, Fatimah, tetap dihukum potong tangan jika mencuri. Sayangnya, Ray berpendapat, penafsiran tentang tindak mencuri di sini masih sangat tradisional.

“Orang mengartikan pencurian itu sangat tradisionil, misalnya barang seseorang saya ambil, itu pencurian. Itu belum bisa ditafsirkan bahwa korupsi itu bagian dari itu, artinya kata mencuri dalam hadits Nabi sama dengan korupsi, sama dengan suap, karena Anda mengambil hak orang lain yang bukan hakmu,” ujar Ray.

Menurut Ray, contoh pencurian-pencurian yang sifatnya personal seperti mencuri ayam atau mencuri baju sebenarnya bernilai rendah jika dibandingkan tindakan korupsi atau tindakan suap. Selain itu, contoh Nabi Muhammad tentang penegakan hukum yang tidak tebang pilih masih belum ditafsirkan ke kehidupan kita.

“Itu yang membuat saya sangat keras menolak dinasti politik. Kenapa, karena lagi-lagi kalau kita runut ke sejarah Nabi, mana ada Nabi mengistimewakan keluarganya, tidak anak, tidak menantu, tidak cucu, tidak diperlakukan istimewa,” kata pendiri lembaga studi bernama Lingkar Madani Indonesia (LIMA) tersebut.

Ray menegaskan, kalau sekiranya ada pengistimewaanyang dilakukan Nabi, Fatimah yang merupakan anak kandung Nabi hidupnya melarat. Padahal, jika diibaratkan, Nabi saat itu merupakan tempat orang-orang memberikan hadiah, pemimpin Madinah yang jika mau sudah bertumpuk kekayaannya dan keluarganya.

Ray menambahkan, sudah sangat tepat jika kita mencontoh sosok pemimpin dari keteladanan Nabi. Ray turut menyampaikan kalimat yang pernah disampaikan Agus Salim tentang pemimpin, bahwa seorang pemimpin memang merupakan orang yang menderita, mau dan mampu memilih jalan untuk menderita.

“Memilih jalan untuk menderita, itu yang kelihatan dilakukan oleh Nabi, tidak tebang pilih, itulah yang membuat saya jengkel dengan dinasti politik, menjaga amanah kepemimpinan itu tidak menguntungkan diri sendiri. Jadi, ahlak itu artinya jangan korupsi, jangan suap, jangan gratifikasi, tapi jangan juga dinasti,” ujar Ray. (*)

Temukan kami di Google News.