Di UGM, Mahfud Ajak Akademisi Hidupkan Lagi Sikap Kritis

Pakar hukum tata negara Prof. Mahfud MD mengingatkan, Indonesia adalah negara bangsa yang menakjubkan. Negara bangsa yang multietnis, multikultur, multiagama, dalam belasan ribu pulau, yang bisa bersatu.

“Jangan sampai terjadi disintegrasi atau perpecahan bangsa yang tadinya rukun,” kata Mahfud saat dialog Kebhinnekaan Dies Natalis Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) yang Ke-79, di Kampus UGM, Yogyakarta, Rabu (5/2/2025).

Dalam orasinya bertajuk Merawat Kebangsaan melalui Toleransi dan Kemanusiaan, Mahfud mengingatkan, disintegrasi penyebabnya adalah sentimen ikatan primordial yang dipicu oleh ketidakadilan dan kesewenang-wenangan dalam politik dan Pemerintahan.

Untuk itu, lanjut Mahfud, tuntutan utama yang paling relevan adalah membangun kesejahteraan rakyat, dengan politik dan Pemerintahan yang demokratis.

“Tidak sewenang-wenang, menegakkan hukum dan keadilan, sesuai prinsip kebersamaan di depan hukum,” tuturnya.

Sebelumnya, mantan Menko Polhukam ini juga mengungkapkan kecemasannya terhadap situasi di Indonesia. Dikatakan, dalam sebuah pertemuan dengan sejumlah tokoh nasional di UGM, Mahfud menyadari keresahan yang ia rasakan ternyata juga dirasakan oleh para tokoh dan akademisi lainnya.

Mahfud membagikan pandangannya melalui cuitan di akun X resminya @mohmahfudmd, Selasa (4/2/2025). Ia menyebut, ada dua hal yang membuatnya cemas terhadap perkembangan Indonesia saat ini.

Pertama, ia menyoroti semakin sedikitnya orang-orang di kampus atau perguruan tinggi yang bersikap kritis terhadap situasi yang terjadi. Ia juga mengkritik politisi dan pejabat Pemerintahan yang menurutnya tidak memiliki ketegasan dalam menjalankan tugas, kecuali Presiden.

“Sekarang amat sedikit orang kampus yang bisa bersikap kritis. Politisi dan orang Pemerintahan, kecuali Presiden, hampir tak ada yang tegas,” tulis Mahfud.

Pernyataan Mahfud dinilai refleksi dari kekecewaan terhadap elite politik yang gagal menunjukkan kepemimpinan kuat dalam menghadapi berbagai tantangan nasional. Peran aktif para akademisi dan politisi dalam menjaga demokrasi dan menghadirkan solusi nyata untuk rakyat pun dipertanyakan.

Diingatkannya, tanpa adanya upaya serius untuk menyelesaikan masalah tersebut, harapan untuk masa depan bangsa akan hilang.

“Jika kita tidak menyelesaikan masalah terkini dan melakukan perbaikan mendasar, habislah asa,” tuturnya. (*)