Hamid Basyaib Soal Fenomena Komika: Kita Beruntung Mulai Banyak Komedian Menulis Komedinya

Cendekiawan, jurnalis dan penulis senior, Hamid Basyaib, memberikan pandangan tentang banyaknya komika-komika atau stand up comedian yang bermunculan. Ia berpendapat, kemunculan komedian-komedian yang menulis komedinya merupakan kondisi yang baik untuk dunia komedi Indonesia.

“Ini ada muncul generasi komedia baru yang saya kira dalam 15-an tahun terakhir, saya tidak mengamati dari dekat, tapi terlihat sekali mereka melawaknya, bikin komedinya dengan scripted, ini satu gejala baru sebenarnya, walaupun dimulainya oleh warkop tahun 78, mereka sudah melawan dengan tulisan, dengan scripted,” kata Hamid dalam program Poker di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (23/01/2025).

Hamid menuturkan, komedian-komedian di Barat memang sangat scripted, baik yang berasal dari Korea, Cina, Arab, dan lain-lain. Bahkan, mereka sudah melakukan itu sejak masih berkomedi di kafe-kafe kecil dan tidak berubah sekalipun mereka beruntung muncul ke pentas-pentas besar atau tingkatan nasional.

Menurut Hamid, orang seperti Trevor Noah merupakan salah satu contoh sukses sosok komedian sukses yang berasal dari Afrika Selatan, lalu atas kepintarannya mendapatkan kontrak televisi di AS. Karenanya, Hamid mengaku senang, ketika komedian-komedian di Indonesia mulai menyadari pentingnya penulisan.

“Saya senang dalam hal melihat komedian kita mulai menyadari ini, scripted. Sebab, kalau dilihat secara negatifnya, kalau Anda lihat umur-umur popularitas grup-grup lawak kita singkat singkat, semakin lama memang semakin singkat, adaSrimulat yang cukup lama, ada Bagito, ada Surya Grup, ada segala macam,” ujar Hamid.

Menurut Hamid, banyak grup-grup komedi di Indonesia yang usia popularitasnya pada akhirnya tidak panjang. Hal itu, ia berpendapat, tidak lain karena mereka berkomedi hanya mengandalkan momentum atau bisa dibilang slapstick, dan tidak terbiasa mencari dan menyusun komedianya melalui tulisan.

Memang, lanjut Hamid, komedi-komedi bersifat slapstick memang akan menghasilkan kelucuan yang bisa dibilang cepat karena secara struktur mereka yang menyodorkan langsung kelucuan yang dimaksud. Tapi, ia merasa, itu tidak akan bertahan lama karena nantinya sulit bertahan jika hanya mengandalkan momen.
Maka itu, ia menekankan, mencari dan menyusun komedi dalam tulisan sebenarnya sangat membantu komedian itu sendiri bertahan dalam industry komedi. Tapi, Hamid menyadari, menulis memang bukan sesuatu yang mudah dilakukan dan ada teknik-teknik yang sangat perlu dipelajari untuk dapat dilakukan.

“Humor yang baik itu kalau spirit lucunya itu disimpulkan sendiri oleh pendengar atau pemirsanya. Mohon maaf, kebanyakan kita, nyodorin, nyuapin, takut betul penonton tidak mengerti letak lucunya, sehingga nilai lucunya paling sedikit diskon separuh, memang menulisnya juga harus ada ilmunya, tidak mudah,” kata Hamid yang kali ini hadir dalam program Poker bersama pelaku stand up comedy, Abdur Arsyad.

Hamid mencontohkan, saat kontestasi Pilpres AS dulu, Ronald Reagan melawan Jimmy Carter, Reagan sebagai petahana dan Carter sebagai penantang. Carter yang cenderung lurus, Kristen yang baik dan memang persona yang membosankan, kerap mendapat ledekan dari Reagan melalui cara-cara komedi.

Salah satunya cerita Reagan tentang Carter yang diminta berpidato di pemakaman yang begitu mendunia. Reagan menyebut, saking lamanya pidato Carter orang yang sudah meninggal saja sampai ikut menguap. Menurut Hamid, itu jadi contoh betapa berdampaknya komedi scripted atau penulis humor yang baik..

“Saya rasa kita bersyukur ada mereka, dan saya rasa jumlahnya semakin banyak. Ini Abdur (Arsyad), S2 matematik, bayangin memilih bidang ini, nanti mudah-mudahan semua bidang kita itu diisi oleh orang-orang pintar di bidang apapun, termasuk bidang yang seolaah tidak membutuhkan kepintaran. Tidak ada satupun bidang yang tidak membutuhkan kecerdasarn, kita beruntung sebagai audience,” ujar Hamid. (*)

Temukan kami di Google News.