Target 8 Persen, Pemerintah Disarankan Bantu Pebisnis Agregator dan Perbaiki Ekosistem Rantai Pasok

Founder ukmindonesia.id dan dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Dewi Meisari Haryanti menilai, target tinggi 8 persen pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo sebenarnya bisa diwujudkan. Namun, ada langkah-langkah tepat yang perlu dilakukan.

Salah satunya, ia menyarankan, pemerintah harus sudah mulai membantu pebisnis agregator. Apalagi, ia melihat, selama ini program-program yang diinisiasi pemerintah kerap bias ke ukm-ukm produsen, sampai muncul pandangan seolah-olah mereka yang merupakan pedagang barang atau jasa bukan pelaku usaha.

“Pertama pebisnis agregator yang fungsinya itu justru mengagregasi produk-produk yang dibikin sama usaha mikro, nanti yang cekatan mengurusi e-commerce sama ekspornya si agregator ini, ini yang kita didik,” kata Dewi dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (16/01/2024).

Hal ini sejalan dengan apa yang sedang Dewi perjuangkan yaitu mengajak anak-anak muda untuk mau menjadi pebisnis agregator. Terlebih, Dewi mengungkapkan, selama ini melatih produsen terbilang jauh lebih sulit dan akan lebih mudah jika ada anak-anak muda yang dilatih untuk menjadi pebisnis agregator.

Nantinya, lanjut Dewi, mereka itu yang diajarkan SEO atau diajarkan membuat dan mengembangkan website. Turunan dari ukm agregator ini akan memegang kunci sentral. Sebab, jika pemerintah mau mengalokasikan investasi untuk pendampingan, mereka yang nantinya memainkan peran akselerasi.

“Karena, potensi ekspor kita yang belum terealisasi, sudah dihitung ini, itu masih USD 148 miliar, dan itu bukan produk-produk yang besar juga, tahu nggak apa, potensinya itu kayak udang beku, perhiasan perak, aneka snack, banyak produk yang sebenarnya bsia diproduksi by SNI,” ujar Dewi.

Selain itu, Dewi menyarankan, pemerintah harus sudah melakukan perbaikan terhadap sistem digital ekosistem rantai pasok yang selama ini begitu berbelit. Menengok keberhasilan Korea Selatan, mereka sejak 2008 sudah membangun suatu sistem digital ekosistem rantai pasok yang terbukti sukses besar.

“Itu mereka buat dari tahun 2008, kalau di Indonesia itu mau approval kredit rantai pasok itu bisa berminggu-minggu, di sana hitungan tidak ada sehari gara-gara platform itu,” kata Dewi.

Dewi mengaku bersyukur, belakangan pemerintah sepertinya mulai menyadari dan memberikan perhatian untuk melaksanakan itu. Dewi berpendapat, jika langkah-langkah itu dapat dilakukan pemerintah dalam waktu dekat, ada secercah harapan kalau target pertumbuhan ekonomi 8 persen itu benar-benar tercapai.

“Kenapa, dengan adanya sistem kayak gitu, bunga turun dengan sendirinya karena biaya administrasi pinjaman banyak sekali terpangkas, rata-rata bunga di Korea (Selatan) itu 4,5 persen setahun, kita masih 11 persen, kalau itu terjadi saya masih optimis 8 persen,” ujar Dewi.

Sebagai pembelajaran, Dewi menambahkan, kontribusi ekspor ukm di Korea Selatan hari ini sudah mampu mencapai angka 39 persen. Sedangkan, kontribusi ekspor ukm di Indonesia seperti tidak bisa bergerak dari angka 15,7 persen. Kondisi serupa terjadi untuk rasio kredit umkm terhadap total kredit perbankan.

“Kita mau naikkan ke 30 persen saja setengah mati, mentok di 20 persen mulu, kadang 19 persen. Di Korea 81 persen saja, gara-gara supply chain-nya itu, sistem otomasinya itu sudah dibuat, bukan baru dipikirkan,” kata Dewi. (*)

Temukan kami di Google News.