Menko Mahfud: Sistem Bernegara Indonesia Tidak Bertentangan dengan Islam

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Prof Mohammad Mahfud MD.

“Indonesia itu bukan negara Islam, tetapi negara Islami. Kalau negara Islam itu konotasinya formal, hukumnya, aturanya, namanya, harus Islam. Tetapi kalau Islami, itu substansinya ajaran-ajaran Islam, misalnya persaudaraan kemanusiaan,” jelas Mahfud.

Diterangkan lebih jauh, begitu banyaknya suku, bahasa, agama, kepercayaan, namun Indonesia tetap bersatu. Inilah yang disebut hidup bangsa lintas primordialitas.

Bacaan Lainnya

“Struktur dan sistem pemerintahannya, demokrasi perwakilan, presidensil dan kesatuan. Mana yang bertentangan? Nggak ada. Ideologi Pancasila, dalam buku Prof Quraish, justru Allah mendelegasikan kepada manusia untuk membuat hukum sesuai tempat dan waktunya,” tandasnya.

Indonesia, kata Mahfud, sejak awal menyadari, membangun negara yang inklusif. Negara yang Islami. Sifat, nilai yang baik dalam Islam, masuk dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

“Dulu sudah ada perdebatan. Akhirnya ketemu negara Islami, negara Pancasila. Substansi nilai Islam masuk dalam aturan. Bukan formalitas simboliknya. Buktinya, kita berislam baik sekali di Indonesia. Tanpa harus menunjukkan bendera formalnya. Benderanya ya kemanusiaan,” kata Mahfud.

Mahfud menyebut, ini sama dengan negara Madinah yang tercermin dalam gambaran piagam Madinah yang dibuat pada masa Rasulullah. Ketika Nabi tiba di Yatsrib, ia mengubahnya menjadi Madinah Al Munawarah. Inilah contoh negara inklusif, civilized, negara yang madani dan beradab.

Di lain sisi, Mahfud menentang orang-orang yang berpendapat Indonesia seharusnya menerapkan sistem bernegara seperti yang dibangun Nabi Muhammad SAW di Madinah. Justru menurut Mahfud, mendirikan negara seperti nabi hukumnya haram.

“Haram Anda mendirikan negara seperti Nabi. Karena hukum di zaman Nabi ditetapkan oleh Allah lalu diteruskan oleh Nabi, sekarang kalau anda mendirikan negara yang seperti nabi, siapa yang mau jadi Nabi, kan dilarang,” ujarnya.

“Nabi bikin Piagam Madinah, terdiri dari banyak suku dan agama. Semua dilakukan sederajat. Ini sama dengan Pancasila. Toleransi beragam di Madinah, amat bagus. Yahudi, Nasrani dan sebagainya aman. Bahkan, Aisyah diutus untuk menemui mereka untuk menyampaikan, saya ini diutus tidak untuk mengislamkan Nasrani, dan Yahudi, saya hanya membawa agama yang lurus, tetapi toleran. Kehidupan di Madinah toleran sekali,” papar Mahfud.

Tak Ada Islamophobia di Indonesia

Mahfud juga membantah bahwa ada islamophobia di Indonesia. Sebab, sudah banyak orang Islam yang dapat tempat dan menjadi pejabat.

Temukan kami di Google News.