Inisiatifnews.com – Direktur eksekutif Indonesian Public Institite (IPI) Karyono Wibowo menilai bahwa isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) di Pilkada Surakarta 2020 tidak akan berhasil jika dilakukan untuk melakukan manuver pasangan calon tertentu.
“Isu SARA di sana apakah bisa mendowngrade Gibran?. Keduanya sama-sama Muslim, baik Gibran maupun Teguh,” kata Karyono dalam launching hasil survei IPI dengan tema “Potret Dinamika Pilkada Kota Solo: Membaca Peluang Kandidat dan Perilaku Pemilih”, Kamis (27/8/2020).
Sementara di Solo sendiri, masyarakat yang beragama Islam menjadi mayoritas, sehingga potensi untuk terjadinya gesekan konflik rasial untuk mengisi kontestasi politik elektoral sulit tersulut di Solo.
“Lebih dari 80 persen penduduk di sana Muslim. Jadi Muslim mayoritas, sehingga isu SARA tidak terlalu signifikan mempengaruhi pemilih di sana,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat Solo yang tergolong moderat juga menjadi salah satu faktor mengapa Pilkada di sana tidak terlalu signifikan jika harus mengangkat isu sentimen SARA.
“Faktor pertimbangan SARA di Solo itu tidak menjadi isu penting di sana, karena mayoritas masyarakatnya moderat. Perbedaan latar belakang agama suku itu bukan menjadi persoalan yang harus dipertentangkan,” jelasnya.
Maka dari itu, Karyono pun menyarankan agar tim sukses masing-masing pasangan calon tidak menggunakan isu dengan sentimen SARA di dalam menggalang dukungan, termasuk untuk menurunkan elektabilitas lawan politik.
“Jika ada kelompok atau pasangan tertentu yang pakai isu SARA maka tidak relevan. Karakter masyarakat di sana tidak mempersoalkan latar belakang SARA,” tuturnya.
Lalu bagaimana jika seandainya ada sekelompok masyarakat atau pasangan calon yang menggunakan narasi pro dan kontra terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI). Karyono menilai isu tersebut juga tidak berguna pula di Pilkada Solo. Pun jika harus dikeluarkan, maka akan percuma saja karena tidak ada dampak yang signifikan sama sekali nantinya.
“Isu komunisme pengaruhnya sangat kecil. Isu komunis kerap dijadikan komoditas politik untuk mendowngrade Pak Jokowi misalnya, di isu Pilkada 2014 dan Pilpres 2019. Bahkan yang suka diserang isu PKI seperti PDIP bahkan suka menang tuh. Jadi isu komunisme kecil pengaruhnya,” papar Karyono. [NOE]
