Gusdurian Kutuk Kekerasan Pada Keluarga Habib Segaf Al Jufri Solo

alissa wahid
Sekjen Gerakan Suluh Kebangsaan Alissa Wahid saat menjadi narasumber dialog kebangsaan di Stasiun Tugu Yogyakarta, Selasa (19/02/2019) malam.

Inisiatifnews.com – Koordinator jaringan nasional GUSDURian, Alissa Wahid menyatakan sangat mengutuk keras terhadap aksi kekerasan sekelompok masyarakat terhadap keluarga almarhum Habib Segaf Al Jufri di Jl Cempaka Nomor 81, Kampung Mertodranan, Pasar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah pada hari Sabtu 8 Agustus 2020 lalu.

“Mengutuk peristiwa penyerangan tersebut karena mencederai nilai-nilqi kemanusiaan. Kekerasan tisa bisa dibenarkan atas alasan apapun,” kata Alissa Wahid, Minggu (9/8/2020).

Bacaan Lainnya

Agar kasus serupa tidak kembali terjadi, maka aksi kekerasan yang dilakukan sejumlah orang tersebut harus ditindak dengan tegas.

“Meminta kepolisian setempat untuk menuntaskan kasus ini melalui mekanisme konstitusi,” ujarnya.

Karena menurut putri almarhum Gus Dur itu, kepolisian adalah lembaga negara yang memiliki tugas untuk memberikan keamanan bagi masyarakat, serta menjadi lembaga penegak hukum.

“Meminta kepolisian setempat untuk menuntaskan kasus ini melalui mekanisme konstitusi. Sebagai lembaga negara,” terangnya.

“Kepolisian harus menegakkan hukum tanpa mempertimbangkan opsi harmonisasi sosial, yang hanya akan melanggengkan praktik kekerasan di masa mendatang,” jelas Alissa. “Pelaku harus dihukum setimpal dengan Undang-Undang yang berlaku,” sambungnya.

Selain itu, Alissa juga meminta kepada Pemerintah Daerah agar tidak pasif terhadap persoalan tersebut. Apalagi menurutnya, tidak boleh ada warga negara yang tidak merasa nyaman hidup di Indonesia.

“Kepada pemerintah daerah, untuk menjamin keamanan warga negara khusus yang berstatus sebagai kelompok rentan,” harap Alissa.

Dan kepada para pemuka agama, Alissa Wahid juga berpesan agar lebih mengutamakan pesan damai kepada masyarakat dan umat beragama di wilayah mereka masing-masing.

“Meminta tokoh agama setempat untuk bahu membahu menebar gagasan agama yang penuh Rahmat,” tuturnya.

Karena menurut Alissa, perspektif yang tidak tepat terhadap bagaimana memahami sebuah perbedaan dan merasa paling eksklusif dari kelompok lain adalah pemicu konflik antar sesama, dan akan berujung pada sikap intoleran.

“Intoleransi terjadi salah satunya karena adanya ideologisasi nilai-nilai ekslusivime yang dibalut dengan semangat keagamaan. Padahal sejatinya agama mengajarkan manusia untuk mensyukuri perbedaan sebagai karunia dari Allah SWT,” jelas Alissa.

Selanjutnya, Alissa juga mengajak kepada para pecinta Gus Dur, alias Gusdurian untuk ikut menggaungkan semangat bhinneka tunggal ika.

“Mengajak para GUSDURian dan masyarakat pada umumnya untuk terus merawat semangat bhinneka tunggal ika sebagai warisan para pendiri bangsa,” ucapnya. “Sejak didirikan, Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku, bangsa, agama, adat istiadat dan lain sebagainya,” sambungnya.

Terakhir, Alissa juga meminta kepada seluruh bangsa Indonesia agar tidak mengedepankan aksi kekerasan apapun ketika mendapati sebuah perbedaan.

“Menyerukan kepada seluruh warga negara Indonesia untuk tidak menggunakan kekerasan dan ujaran kebencian kepada mereka hang berbeda,” tandasnya.

“Sebagaimana kata Gus Dur, kemajemukan harus bisa diterima tanpa ada perbedaan,” tutupnya. [RED]