Inisiatifnews.com – Filsuf asal Universitas Indonesia (UI), Rocky Gerung memberikan kritikan terhadap upaya apapun yang membungkam daya kritis dan pemikiran Mahasiswa.
“Kampus harus diisi dengan keberagaman. Demokrasi hanya bisa diolah kalau kampus itu punya sinyal bebas,” kata Rocky Gerung dalam diskusi bersama Komunitas Pengawal Konstitusi (KPK) Unissula, Senin (15/6/2020).
Ia menilai jika ada upaya apapun yang membungkam pemikiran kritis Mahasiswa, ia menyebut itu sebetulnya bentuk dari otoritarianisme.
“Kampus yang dikendalikan pemikirannya itulah yang dimaksud otoritarianisme,” ujarnya.
Maka dari itu, Rocky pun meminta dengan tegas agar tidak ada lagi upaya pembatasan dan pembungkaman terhadap data kritis pemikiran Mahasiswa untuk menyikapi berbagai hal, baik di dalam kampus maupun di luar kampus sebagai agent of change dan agent of control.
“Kembalikan kampus jadi gudang pemikiran. Biarkan kampus hidup dalam kultur cross addressing, bukan dress code. Demokrasi ada untuk mengolah perbedaan,” tegasnya.
Terakhir, Rocky menyebut bahwa sebuah pemikiran bisa disebut sebagai pikiran ketika bisa diperdebatkan.
“Pikiran hanya bisa disebut pikiran ketika bisa diperselihkan. Kalau pikiran kita tidak bisa diberselisihkan, berarti kita tidak sedang berpikir tapi sedang berdoa,” tutupnya.
Hal senada juga disampakan oleh Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Padjajaran, Prof. Susi Dwi Harijanti. Ia berpendapat bahwa demokrasi adalah alam untuk meningkatkan dan menjaga daya kritis, apalagi bagi kalangan intelektual kampus.
Baginya, kebebasan berbicara adalah mutlak harus diberikan kepada seluruh warga Masyarakat termasuk Mahasiswa. Jangan sampai ada upaya pembungkaman terhadap suara kritis Mahasiswa.
Hal ini disampaikan Prof Susi sekaligus untuk memberikan catatan kritis terhadap gagalnya diskusi webinar yang sempat akan digelar oleh Constitutional Law Society Universitas Gadjah Mada (CLS UGM) beberapa waktu yang lalu itu.
“Mahasiswa punya kebebasan akademik. Contoh kasus diskusi di UGM seharusnya kebebasan akademik yang berperan, kenapa ini kebebasan akademik dikedepankan karena ini berkaitan dengan fungsi dari sebuah Universitas,” kata Susi.
Ia mengatakan bahwa tugas dan fungsi sebuah kampus adalah bagaimana agar lahir para pemimpin-pemimpin berkarakter yang memiliki kualitas keilmuan yang baik. Dan untuk mencetak generasi pemimpin semacam itu, Prof Susi menyebut hanya bisa dilakukan dengan pengasahan pemikiran melalui perdebatan, dan itu alamiah di lingkungan kampus.
“Fungsi Universitas itu lahirkan pemimpin-pemimpin berkarakter yang didasari atas ilmu dan nature-nya adalah berbeda pendapat. Universitas tidak bisa jalankan fungsi melakukan perkembangan ketika di dalamnya tidak ada kebebasan berpendapat,” tuturnya.
Namun ia memberikan titik berat, bahwa perdebatan ilmiah memiliki tujuan yang mulia yakni menemukan sebuah kebenaran.
“Kebebasan berbicara itu untuk menemukan kebenaran. Dengan kita berbicara dan berdialog dan bertarung argumen, sejatinya tujuannya untuk temukan kebenaran-kebenaran,” tuturnya. [NOE]
