Inisiatifnews.com – Pemerintah pusat dan pemerintah daerah gencar memerangi penyebaran virus Corona (COVID-19). Namun, sejumlah kalangan menilai, pemerintah abai dengan keselamatan petugas pengangkut sampah dan pemulung.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Peneliti di Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), jumlah sampah masker dan sarung tangan sekali pakai mengalami peningkatan. Hal ini dikhawatirkan akan menjadi sumber penyakit baru.
KAWALI DKI Jakarta kembali mengingatkan dan mengimbau pemerintah pusat dan pemerintah daerah, khususnya Pemprov DKI Jakarta segera mengambil langkah konkret terhadap sampah masker dan sarung tangan sekali pakai agar tidak menjadi sumber penyakit baru yang dapat menjangkiti warga.
“Khususnya para petugas pengangkut sampah dan pemulung karena masih saja ada petugas pengangkut sampah yang tidak dilengkapi baju khusus dalam stuasi pandemik virus saat ini,” kata Ketua KAWALI Jakarta, Mardian dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (27/04/2020).
Data Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan, sejak adanya himbauan Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah akibat penyebaran virus Corona Covid-19 yang semakin tidak terkendali, jumlah sampah dari DKI Jakarta yang diangkut ke TPST Bantargebang, Bekasi memang berkurang 620 ton per hari.
Akan tetapi, lanjut Mardian, jumlah sampah masker dan sarung tangan sekali pakai mengalami peningkatan. Sejak adanya imbauan pemerintah yang disampaikan lewat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 agar masyarakat memakai masker dan sarung tangan, yang biasanya hanya digunakan petugas kesehatan, kini malah banyak digunakan setiap orang dan bahkan juga dipakai karyawan bank BUMN dan lain sebagainya.
Oleh karenanya, dapat dibayangkan berapa banyak peningkatan sampah masker dan sarung tangan sekali pakai yang akan diangkut atau dibawa petugas pengangkut sampah.
Mardian melanjutkan, ada sekitar 300 ribu petugas pengangkut sampah yang setiap harinya bersentuhan langsung dengan sampah yang mereka angkut di DKI Jakarta. Ditambah lagi lebih kurang 500 ribu pemulung yang tetap mencari sampah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Petugas pengangkut sampah dan pemulung ini tidak pernah tau apakah sampah yang mereka angkut atau ambil apakah sampah mereka yang ODP karena hingga saat ini Pemprov DKI Jakarta belum juga menyediakan tempat sampah khusus (drop box) yang ditempatkan di ruang publik dan dibagikan untuk mereka yang ODP dan dirawat dirumah.
“Petugas kebersihan dan pemulung sangat rentan tertular Covid-19 tak disediakan tempat sampah khusus atau drop box,” tandasnya.
KAWALI DKI Jakarta menyarankan Pemprov DKI Jakarta menggunakan kantong plastik ramah lingkungan mudah terurai secara alami yang sudah ber SNI ecolebel sebagai penganti fungsi drop box untuk menampung sampah yang berpotensi terpapar Virus.
“Kami siap membantu Pemprov DKI Jakarta membagikan kantong plastik ramah lingkungan mudah terurai secara alami jika dibutuhkan. Jangan sampai ada sumber penyakit baru yang akan merenggut korban jiwa baru,” pungkas Mardian. (FMM)
