Hikam Sindir Jubir Prabowo Asal Jeplak

dahnil
Dahnil Anzar Simanjuntah bersama dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Inisiatifnews.com – Pengamat politik dari President University, Muhammad AS Hikam menyayangkan statemen juru bicara Menteri Pertahanan, Dahnil Anzar Simanjuntak yang sempat menyebut bahwa eks kelompok ISIS asal Indonesia bisa ikut bergabung dalam komponen cadangan pertananan di Indonesia, dengan catatan lulus dalam program deradikalisasi.

“Sebelumnya dia bilang bahwa eks kombatan ISIS bisa ikut jadi bagian dari komponen cadangan pertahanan, asal mereka sudah lulus program deradikalisasi,” kata Hikam dalam keterangannya yang diterima oleh Inisiatifnews.com, Minggu (23/2/2020).

Bacaan Lainnya

Hanya saja statemen itu justru diralat lagi olehnya karena persoalan spesifikasi yang ketat untuk menjadi bagian dari komponen cadangan pertahanan Indonesia itu.

“Sekarang Dahnil Anzar bilang tidak bisa, sebab program Komcad menuntut syarat yang ketat agar bisa mengikuti proses pelatihan dan akan diseleksi oleh TNI,” ujarnya.

Apalagi ralat itu disampaikan Dahnil setelah publik banyak mempersoalkan statemen kaki tangan Prabowo Subianto di bidang informasi itu.

“Lho, masa sih seorang jubir Menhan nggak paham soal elementer seperti itu? Saya kok nggak percaya,” pungkasnya.

Dari statemen dan sikap Dahnil itu, menteri era Gus Dur itu pun menyebut bahwa saat ini banyak sekali pejabat publik yang asal ngucap tanpa mematangkan dulu apakah statemennya itu sesuai atau tidak.

“Kayaknya asal njeplak alias Asjep para pejabat dan atau pembantunya lagi ngetren, karena mereka merasa nggak ada konsekuensi apa-apa. Makanya virus pekokisme pun ikut menjalar di kalangan elit Pemerintahan,” tandasnya.

Perlu diketahui, bahwa Juru Bicara Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut eks ISIS yang telah menjalani deradikalisasi diperbolehkan ikut Komponen Cadangan (komcad) Pertahanan Negara.

“Kalau mereka sudah sukses deradikalisasinya kemudian program deradikalisasinya sudah sukses, mereka sudah memenuhi persyaratan, siapa saja berhak,” ujar Dahnil di kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jakarta Pusat, Kamis (20/2).

Dahnil mengatakan, program deradikalisasi yang diikuti eks ISIS merupakan upaya menyadarkan pentingnya bela negara. Program ini juga diharapkan bisa membuat mereka cinta bangsa dan negara.

Pada dasarnya, lanjut dia, program deradikalisasi merupakan upaya bela negara.

Hanya saja statemen itu akhirnya ada yang diralat oleh Dahnil sendiri, yakni terkait dengan peluang eks kombatan ISIS untuk menjadi bagian dari komponen cadangan pertahahan Indonesia.

“Mantan teroris dan residivis atau siapa pun yang memiliki catatan kriminal tentu tidak bisa mengikuti program Komponen Cadangan (Komcad) bila nanti program tersebut berjalan,” kata Dahnil dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/2).

Dahnil mengatakan, program Komcad menuntut syarat yang ketat agar bisa mengikuti proses pelatihan dan akan diseleksi oleh TNI.

Sementara itu, terkait eks teroris seharusnya lebih perlu mengikuti program deradikalisasi yang dilakukan oleh pemerintah untuk diberikan pemahaman yang moderat.

Dengan begitu, terdapat upaya moderasi agar eks teroris bisa memiliki semangat cinta dan bela negara. [RED]