Setiap orang yang dilahirkan ke tengah-tengah dunia, tak peduli dimanapun itu terjadi, pasti ia diharapkan untuk hidup. Lahir di kampung atau di kota, di tengah hutan atau di rusunawa atau di apartemen; lahir di tangan seorang dukun beranak atau di tangan seorang dokter ahli, kesemuanya menginginkan sang bayi itu lahir dengan bugar. Baik manusia di zaman agraris maupun di era digital kesemuanya berharap agar anak yang lahir dari persalinan itu hidup bahkan hidup yang kontributif, berkarya bagi orang lain.
Pasangan suami istri berupaya keras agar sang bayi lahir dengan berat badan dan tinggi yang standar sehingga selama proses kehamilan, multi vitamin dan makanan bernutrisi tinggi diberikan secara rutin bagi sang ibu. Selain itu aktivitas pemeriksaan kesehatan, konsultasi kepada dokter ahli dilakukan juga secara teratur dan terencana.
“Man is born to live and not to prepare to live” (Boris Pasternak)
Agama-agama mengajarkan agar umat mempersiapkan kelahiran seorang bayi dengan baik bahkan merawat serta menumbuhkan anak-anak agar hidup mereka berpadan dengan nilai-nilai agama yang mereka anut. Hidup dan menghidupi dunia memang bukan hal yang sederhana. Hidup yang matang, mature amat diperlukan sehingga tatkala seseorang bergulat dengan derita ia mampu bertahan.
Boris Pasternak (1890-1960) seorang penulis Rusia yang memenangkan hadiah Nobel 1958 menegaskan sesuatu yang amat tegas dan definitif bahwa manusia itu dilahirkan untuk hidup dan bukan untuk mempersiapkan hidup.
Mari kita mewujudkan hidup yang benar-benar hidup, hidup yang menghidupkan orang lain bukan mempersiapkan atau bersiap-siap untuk hidup. Hidup yang benar-benar hidup adalah hidup yang mempraktikkan ajaran agama, hidup yang taat hukum, hidup yang menghargai martabat dan peradaban manusia, hidup yang memajukan HAM, hidup yang menghargai kemajemukan dan kebebasan beragama, hidup yang bersimpati dan berempati terhadap sesama, hidup yang sepenuhnya mengasihi Allah, dan mengasihi sesama.
