Inisiatifnews – Putri Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid (Alissa Wahid) menegaskan bahwa penyebab radikalisme bukan dari ketimpangan sosial dan ekonomi.
“Saya kok ndak percaya ketimpangan ekonomi jadi sebab radikalisme,” kata Alissa, Senin (30/12/2019).
Ia menilai bahwa radikalisme karena adanya eksklusifitas kelompok beragama tertentu, termasuk Islam sendiri.
“Even if tidak ada ketimpangan, gerakan eksklusivisme agama akan tetap kuat karena ideologinya memang formalisasi Islam sebagai syarat berislam secara kaffah,” ujarnya.
Koordinator Nasional GUSDURian Network Indonesia itu mengatakan bahwa ketika upaya peredaman ideologi dan paham radikalisme hanya dengan menempatkan ketimpangan ekonomi dan sosial sebagai tersangkanya, maka upaya itu bisa salah arah.
“Mereduksi gerakan pan islamisme menjadi hanya dampak dari ketimpangan akan membuat kita salah arah penanganan,” terangnya.
Persoalan deradikalisasi dan penurunan ketimpangan ekonomi diamini Alissa sebagai upaya yang harus ditindaklanjuti. Namun harus dilakukan dengan porsi yang tepat.
“Menurut saya ini kedua isu sama-sama penting tapi tidak selalu kausal. Harus diselesaikan sesuai kebutuhan responsnya,” imbuhnya.
Selain itu, Sekretaris Jenderal Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK) ini malah menilai jika satu-satunya tersangka penyebab radikalisme muncul di tengah-tengah masyarakat adalah ketimpangan ekonomi, maka warga Nahdliyyin bisa menjadi subyek yang paling banyak dipapar radikal.
“Kalau ketimpangan adalah akar radikalisme, ya orang NU bakal banyak yang radikal lah,” pungkasnya.
Alasannya, adalah banyak masyarakat dengan kategori miskin ada di pedesaan yang mayoritas adalah warga Nahdlatul Ulama (NU). Sementara jika dilihat dari faktanya, justru ekskulisifitas agama yang menjadi jalan mulus paham radikal masuk bukan di pedesaan melainkan di kalangan perguruan tinggi.
Karena alasan inilah yang membuat Alissa Wahid tidak sependapat jika akar radikalisme adalah ketimpangan ekonomi dan sosial.
“Kebanyakan kaum miskin ada di desa, dan sebagian besarnya orang NU. Sementara, gerakan eksklusivisme agama menyubur di Universitas negeri, yang sedikit orang NU dan dihuni kelas menengah,” tegasnya. [NOE]
