Pengamat Nilai Anies Baswedan Bisa Isi Ruang Oposisi

Stanislaus Riyanta
Ketua GPMI Jakarta Raya tengah memberikan cinderamata kepada Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta. [foto : istimewa]

Inisiatifnews – Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta mengatakan bahwa situasi saat ini tidak ada pihak yang benar-benar berada di blok oposisi sebagai penyeimbang pemerintah.

Dan menurutnya, ruang kosong itu bisa diisi oleh sosok Anies Rasyid Baswedan yang saat ini tengah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Bacaan Lainnya

“Saat ini demokrasi kita agak aneh (karena) kita tidak punya oposisi. Bahkan tidak ada figur oposisi. Namun ini bisa di isi oleh pak Anis,” kata Stanislaus dalam sebuah diskusi yang digelar oleh GPMI Jakarta Raya di Senen, Jakarta Pusat, Jumat (27/12/2019).

Kelompok oposisi yang sebelumnya diharap-harapkan justru saat ini sudah menjadi bagian dari kekuasaan politik. Kondisi ini dikatakan Stanislaus yang membuat ruang oposisi saat ini menjadi terkesan hampa.

“Praktis sekarang kelompok oposisi sudah di dalam pemerintahan tokoh oposisi sudah hilang,” ujarnya.

Situasi seperti ini menurut Stanislaus adalah kesempatan emas bagi Anies. Apalagi kedudukan saat ini adalah Anies Baswedan berada sejengkal dengan kekuasaan RI. Maka kesempatan tersebut seharusnya tidak boleh disia-siakan oleh Anies untuk merebut “tiket” Calon Presiden di 20204.

“Pak Anis bisa menjadi kuda hitam. Dua tahun itu mau atau tidak pak Anis harus mencarin panggungnya,” pungkas Stanislaus.

Selain itu, Stanislaus juga menyarankan agar Anies merangkul seluruh potensi kekuatan politik yang ada. Apalagi saat ini Anies belum memiliki kendaraan politik apapun yang bisa melancarkannya nanti jika memang ingin maju dalam kontestasi Pemilihan Presiden.

“Agar pak Anis ada panggung mau tidak mau Anis harus merangkul suara lawan politiknya pada Pilkada lalu,” tuturnya.

“Langkah yang sudah dilakukan adalah momentum natal kemarin tetapi ini harus hati-hati,” imbuh Stanislaus.

Terakhir, Stanislaus mengingatkan pula agar Anies tidak terhipnotis dengan angka matematis semata.

“Polarisasi yang terjadi pada Pilkada kemarin, tugas pak Anis adalah bagaimana cara merangkul 42 persen kemarin. Matematika tidak berlaku di politik,” tutupnya. []