Ucapan Natal dan Jaga Gereja, NU Dihujat, Hikam : Tak Usah Diladeni

as hikam
Muhammad AS Hikam. [foto : istimewa]

Inisiatifnews – Akademisi dari Universitas Presiden, Muhammad AS Hikam menyayangkan hujatan dari beberapa kelompok masyarakat tentang kehadiran kader Nahdlatul Ulama (NU) yakni Banser Ansor dalam menjaga keamanan gereja saat perayaan hari natal.

“Selain urusan fatwa ucapan Natal bagi ummat Islam kepada ummat Kristiani, yang sering muncul adalah hujatan terhadap Banser-Ansor, salah satu underbouw NU, yang menjaga Gereja saat Natal,” kata Hikam dalam keterangannya yang diterima Inisiatifnews.com, Minggu (22/12/2019).

Bacaan Lainnya

Padahal bagi Hikam, peran serta kader NU tersebut adalah sesuatu yang lumrah. Bahkan cenderung memiliki sisi manfaat.

“Sebenarnya kalau orang mau menggunakan nalar waras, soal Ansor dan Banser berpartisipasi dalam pengamanan perayaan Natal adalah hal yang sangat lumrah, normal dan moral, serta membawa manfaat bagi upaya menjaga keselarasan dan penguatan kehidupan berbangsa,” ujarnya.

Hanya saja, Menristek era Presiden Gus Dur itu menilai memang ada semacam paket hemat setiap kali ada perayaan Natal dan Tahun Baru, yakni mengharamkan ucapan Selamat Natal dan keberadaan Banser NU ikut menjaga keamanan gereja, kemudian menjadi bahan untuk menyalahkan kalangan Nahdliyyin begitu saja.

Yang paling disayangkan Hikam adalah, kelompok pembuat paket hemat itu adalah mereka yang merasa paling benar sendiri padahal sejatinya memiliki niat untuk melakukan pecah belah tatanan kehidupan bermasyarakat yang ada, dan menggunakan dalih agama untuk membenarkan ulahnya itu.

“Namun karena landasan yang digunakan pembuat ‘paket’ tersebut. Adalah pikiran sarat dengan kebencian, merasa paling benar sendiri, dan niat memecah belah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, maka hujatanlah yang keluar kendati dengan bersembunyi di balik narasi agama,” tandasnya.

Saran Hikam, paket hemat hujatan semacam itu tak perlu mendapatkan respon apapun dari kalangan Nahdliyyin. Kecuali ketika mereka sikap mereka dinilai sudah tidak bisa ditolerir.

“Maka, hemat saya, baik ansor atau banser maupun NU tak perlu reaktif, kecuali jika para penghujat tersebut telah melampaui batas, misalnya menyerang secara fisik,” tutur Hikam.

Muhammad AS Hikam juga menilai jika Banser NU dan Ansor NU memiliki meladeni kelompok semacam itu, justru akan mubazir energi semata. Bahkan lebih ekstrem lagi adalah merendahkan derajat para ulama NU.

“Meladeni para pecundang anti Ansor dan Banser itu selain muspro (sia-sia) juga malah merendahkan derajat para masyayikh dan jam’iyyah. Lebih baik jalan terus dan semakin perkuat sinergi dengan aparat serta ummat beragama lain,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hikam berharap agar paket hemat yang selalu dihembuskan oleh kelompok-kelompok semacam itu bisa dibinasakan dari Indonesia. Dan baginya, ini menjadi tugas semua stakeholder baik pemerintah sebagai pengelola negara maupun masyarakat sipil. Namun ia memberikan catatan, bahwa cara membinasakannya adalah bukan dengan melalukan tindakan kekerasan dalam bentuk apapun, mainkan dengan memperkuat ukhuwah basyariah.

“Pemerintah dan seluruh komponen masyarakat sipil harus terus berusaha agar ‘paket-paket’ jelang Natal yang buruk itu bisa dilenyapkan. Caranya bukan meladeni dengan kekerasan tetapi dengan menanamkan dan memperkuat kebersamaan dalam kehidupan berbangsa,” tutupnya. [NOE]