Ibu Sinta Wahid Dapat Gelar Doktor Sosiologi Agama UIN Jogja

sinta nuriyah wahid
Penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa UIN Jogja kepada Sinta Nuriyah Wahid.

Inisiatifnews – Istri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah Wahid telah mendapatkan gelar doktor ilmu sosiologi agama. Pemberian gelar tersebut dilakukan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta melalui rapat senat terbuka.

Kiprahnya dalam membela perempuan dan memperjuangkan pluralisme menjadi dasar penganugerahan tersebut. Ditambah lagi peran Sinta Nuriyah dalam membangun toleransi dan gerakan pluralisme di Indonesia tidak diragukan lagi. Banyak pihak secara khusus memberikan penghargaan atas kiprah itu, UIN Sunan Kalijaga yang merupakan almamater Sinta selama menempuh pendidikan sarjana pada tahun 1970-an ini dengan gelar doktor honoris causa (HC).

Bacaan Lainnya

Saat menerima gelar itu, Ibu Sinta mengenakan toga dan tetap berada di kursi rodanya. Ia menyampaikan pidato yang mengupas perjuangannya bagi perempuan dan pluralisme. Ratusan hadirin, mulai keluarga, kerabat, pejabat negara dan akademisi hadir dalam acara yang sederhana namun khidmat itu. Sinta berulang kali menekankan kedudukan setara manusia di depan Tuhan, dan karena itu tidak ada yang boleh menjadi hakim dalam persoalan terkait keimanan.

“Yang teramat penting lagi adalah bahwa pengadilan puncak terhadap keimanan hanya ada di tangan Tuhan. Oleh karena itu, kesombongan teologis, yang telah menjadi salah satu penyebab pertikaian antaragama dan antarbudaya, serta menyulut tindakan brutal dengan melakukan perusakan maupun penutupan tempat ibadah keyakinan lain, tidak seharusnya terjadi,” papar Sinta, Rabu (18/12/2019).

Sinta memberi contoh, bagaimana gerakan sahur bersama pemeluk agama lain yang dia lakukan selama bertahun-tahun, berdampak positif bagi kerukunan. Ketika ide itu lahir, ujar Sinta, dua pihak yang paling cepat dan besar responnya adalah Majelis Agama Konghucu Indonesia dan Keuskupan Jakarta. Kegiatan itupun akhir menjadi agenda tahunan, di mana pesan-pesan perdamaian digaungkan tanpa henti. Halaman gereja, pasar, kolong jembatan di berbagai kota di Indonesia menjadi saksi bisu perjuangan itu.

“Kegiatan ini, membuat kami betul-betul bisa merasakan betapa indahnya kerukunan dan betapa hangatnya kebersamaan bersama teman-teman aktivis yang peduli,” kata Sinta.

Dalam kesempatan yang ada, Ema Marhumah yang merupakan guru besar UIN Sunan Kalijaga menyampaikan alasan kenapa Sinta Nuriyah dipromosikan untuk mendapatkan gelar doktor tersebut.

“Ibu Nyai Sinta Nuriyah Wahid merupakan seorang aktivis yang sudah lama memperjuangkan hak-hak perempuan, pemberdayaan perempuan, advokasi terhadap perempuan korban kekerasan seksual. Kepedulian dan perjuangan beliau terhadap persoalan ini dapat dilihat dari gagasan-gagasan progresif yang dituangkan dalam bentuk tulisan, baik di media massa maupun buku,” ujar Marhumah.

UIN Sunan Kalijaga memandang Sinta Nuriyah sebagai pelopor penguatan wacana gender dalam Islam. Sinta berani membongkar wacana yang selama ini telah dianggap mapan. Salah satunya adalah dengan mengembangkan kajian Islam dan perempuan, khususnya yang berbasis tradisi intelektual pesantren.

“Forum kajian kitab kuning menjadi forum kajian untuk melakukan kontekstualisasi terhadap kitab tentang relasi perempuan dan laki-laki. Pemahaman yang tidak tepat terhadap teks-teks agama dapat berimplikasi pada kekerasan terhadap perempuan,” tambah Marhumah.

Marhumah juga mencatat, banyak kekerasan rumah tangga didorong oleh interpretasi yang tidak adil dan tidak ramah terhadap perempuan. Sinta Nuriyah pun berkonsentrasi memberdayakan pesantren dalam kajian-kajian yang lebih adil bagi perempuan. Dia juga mendorong perempuan, khususnya di lingkungan santri, agar lebih berani menyuarakan pikirannya.

Ditambahkan Marhumah, Sinta Nuriyah melakukan strategi aktivisme yang dapat diterima oleh kalangan akar rumput. Salah satunya penggunaan konsep perempuan sebagai mitra laki-laki. Sinta juga membumikan berbagai istilah, seperti Women Crisis Centre yang diberi istilah lain, yaitu Puspita atau Pusat Perlindungan bagi Wanita. Pendekatan ini menjadikan isu-isu perempuan lebih mudah diterima bagi masyarakat bawah.

Sinta Nuriyah Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur pada 8 Maret 1948. Dia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Jombang, Madrasah Muallimat Bahrul Ulum Jombang, Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga di program S1 dan Program Kajian Wanita, Universitas Indonesia untuk program S2. Dia pernah berkarier sebagai dosen di Jombang, jurnalis di dua media berbeda di Jakarta, aktivis sosial, pemikir agama, dan ibu negara ke-4. Setidaknya empat buku telah ditulisnya, yang mendobrak pemikiran Islam tentang perempuan dan relasi gender. Dia juga menerima sekurangnya 10 penghargaan nasional dan internasional atas kiprahnya selama ini. []