Hendardi Apresiasi Pidato Jokowi Singgung Intoleransi dan Radikalisme

Hendardi
Ketua SETARA Institute, Hendardi.

Inisiatifnews – Ketua SETARA Institute, Hendardi mengapresiasi konten pidato Presiden Joko Widodo dalam Sidang Tahunan DPR dan MPR RI hari ini.

Pidato yang dimaksud Hendardi adalah kaitannya dengan pencegahan paham radikalisme yang terjadi karena intoleransi di kalangan masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Jokowi secara eksplisit dan bernas mengidentifikasi intoleransi, radikalisme dan terorisme dalam satu deretan kata sebagai ancaman nyata kemajuan bangsa menuju Indonesia maju dan unggul,” kata Hendardi dalam siaran persnya yang diterima Inisiatifnews.com, Jumat (16/8/2019).

Baginya, apa yang dipaparkan Jokowi tersebut menandakan bahwa Presiden sangat paham bagaimana ancaman terorisme bisa terjadi.

“Bahwa intoleransi adalah hulu dari terorisme dan terorisme adalah puncak dari intoleransi,” imbuhnya.

Selain itu, Hendardi juga sepakat dengan pendapat Presiden Jokowi tentang upaya penguatan Pancasila sebagai ideologi final bagi bangsa Indonesia untuk menangkal intoleransi yang berpotensi mengakibatkan orang berpaham radikal dan bisa cenderung mudah melakukan aksi terorisme.

“Pengenalan Jokowi pada tantangan intoleransi-radikalisme-terorisme kemudian dijawab dengan pentingnya penguatan ideologi bangsa, Pancasila,” ujarnya.

Apalagi dalam kajian SETARA Institute sendiri, Hendardi mengatakan bahwa ancaman terhadap ideologi dasar bangsa Indonesia itu bukan isapan jempol belaka.

“Dalam banyak survei, termasuk studi SETARA Institute, ancaman terhadap negara Pancasila adalah nyata adanya,” terangnya.

Maka dari itu, Hendardi merasa tepat jika tantangan intermediate dari upaya mengatasi intoleransi-radikalisme-terorisme ini adalah pembudayaan Pancasila yang menuntut lompatan kreatif dalam pembinaan dan pembudayaannya.

Perlu diketahui, bahwa dalam pidato kenegaraannya di dalam Sidang Tahunan DPR dan MPR RI tersebut, Presiden Jokowi memberikan pemaparan terhadap antisipasi bangsa terhadap ancaman ketahanan dan keamanan nasional di tengah mudahnya keterbukaan informasi dan akses jaringan komunikasi.

“Dalam bidang pertahanan-keamanan kita juga harus tanggap dan siap menghadapi perang siber, menghadapi intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Serta menghadapi ancaman kejahatan-kejahatan lainnya baik dari dalam maupun luar negeri yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita,” ujar Presiden Jokowi hari ini.

Dan Presiden Jokowi juga menyatakan, bahwa Indonesia sama sekali tidak takut dengan aksesibilitas keterbukaan tersebut. Namun kewaspadaan harus tetap ditingkatkan untuk mengantisipasi berbagai ancaman yang disebutkannya itum

“Indonesia tidak takut terhadap keterbukaan. Kita hadapi keterbukaan dengan kewaspadaan. Kewaspadaan terhadap ideologi lain yang mengancam
ideologi bangsa. Kewaspadaan terhadap adab dan budaya lain yang tidak sesuai dengan kearifan bangsa kita. Kewaspadaan terhadap apapun yang mengancam kedaulatan kita,” pungkasnya. []