NasDem Tak Lihat Manfaat Partai Oposisi Masuk Kabinet Jokowi

Johnny G Plate
Sekjen DPP Partai NasDem, Johnny G Plate saat diskusi di PARA Syndicate bersama Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno, Wasekjen DPP Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin dan peneliti senior LIPI Syamsuddin Haris. [foto : Inisiatifnews]

Inisiatifnews – Sekjen DPP Partai NasDem, Johny G Plate menilai bahwa untuk saat ini pihaknya tidak melihat sisi manfaat jika seandainya partai oposisi masuk ke dalam Kabinet Indonesia Kerja Jilid II Jokowi-Maruf.

“Kalau ada pelebaran koalisi pemerintah pertanyaan kita apa manfaatnya, apa sumbangsihnya bagi pemerintah kita?,” kata Johny dalam diskusi di kantor PARA Syndicate, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (19/7/2019).

Bacaan Lainnya

“Saya belum melihat manfaatnya dari sisi politiknya karena kekuasaanya (di parlemen) mayoritas. Mungkin ada proposal-proposal yang memperkuat pengelolaan pembangunan bangsa dan negara ke depan,” imbuhnya.

Jika seandainya partai oposisi diajak masuk ke dalam kabinet, Johny justru melihat ada potensi politik oligarki yang akan terbangun dalam koalisi pemerintah. Kondisi ini menurutnya bukan hanya berbahaya bagi Presiden Joko Widodo sendiri, melainkan juga berdampak negatif bagi rakyat Indonesia secara menyeluruh.

“Dengan (parpol oposisi) bergabung semua di kabinet maka potensi oligari kekuasaan sangat besar. Nanti akan merugikan bagi pak Jokowi dan rakyat Indonesia,” ujarnya.

Oleh karena itu, Johny G Plate berpendapat bahwa pelebaran koalisi pemerintahan Jokowi dengan melibatkan partai oposisi akan lebih banyak menghambat kinerja Presiden dalam memimpin Indonesia.

“Jadi pelebaran koalisi pemerintah Jokowi, manfaatnya saya belum lihat tapi hambatan-hambatan pasti dan yang sudah saya lihat begitu,” terangnya.

Lebih lanjut, Johny berpendapat bahwa partai-partai yang pada Pilpres 2019 menjadi partai oposisi agar tetap mempertahankan posisi oposisinya. Karena menurutnya, membangun bangsa dan negara ke arah lebih baik tidak harus seluruhnya berada di dalam kabinet yang sama.

“Jadi membangun bangsa bersama kita ini tidak selalu harus berada di dalam kabinet. Kita bersahabat dan bersilaturrahmi dengan sama-sama menghormati perbedaan sikap dan pandangan politik,” terangnya.

[SA/NOE]