Inisiatifnews – Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Muzakir Manaf mengklarifikasi ajakan referendum bagi rakyat Aceh. Muzakir meminta maaf dan mengaku, ajakan itu dilakukannya spontan.
“Saya lakukan hal tersebut spontan
kebetulan pada event peringatan haul meninggalnya Teungku Hasan Muhammad Ditiro (Wali Nanggroe Aceh),” aku Muzakir dalam video yang beredar beberapa hari ini.
Dalam video tersebut, Muzakir berbicara di depan kamera sembari berdiri. Sepertinya video ini memang sengaja dibuat untuk dirinya melakukan klarifikasi. Pada video berdurasi 1 menit 17 detik itu, Muzakir yang akrab disapa Mualem ini mula-mula memperkenalkan diri sebagai Ketua Partai Aceh (PA) dan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA).
Untuk diketahui, KPA yakni wadah organisasi bekas kombatan GAM pasca-perdamaian Master of Understanding (MoU) Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005. MoU Helsinki adalah nota kesepahaman antara GAM dengan Republik Indonesia. Perjanjian damai itu mengakhiri konflik bersenjata di Serambi Mekah yang terjadi sejak GAM dideklarasikan 04 Desember 1976 di pedalaman Pidie.
Selanjutnya, Mualem dalam video tersebut mengungkapkan sejumlah poin penting posisi Aceh bagi NKRI. “Saya menyadari rakyat Aceh saat ini cinta damai dan pro NKRI,” tegas Mualem.
Poin berikutnya, dia berharap butir-butir perdamaian yang ditandatangai antara GAM dan Pemerintah Indonesia yang belum sesuai dituntskan ke depan. Ia juga berharap Aceh lebih maju.
“Saya berharap Aceh ke depan harus lebih maju, membangun provinsi Aceh dalam bingkai NKRI. Hal-hal lain yang menurut saya belum sesuai pasca-MoU Helsinki akan saya buat guna menuntaskan semua butir-butir MoU Helsinki ke depan,” ungkap Mualem.
Untuk mengingatkan, pidato Mualem soal
referendum viral di media sosial sebulanan lalu. Mualem menyampaikan pidato itu saat memperingati sembilan tahun wafatnya Wali Neugara Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk Muhammad Hasan Ditiro di Banda Aceh, Senin (27/05) malam. Haul dihadiri sejumlah pejabat Aceh dan eks kombatan GAM. Dalam orasinya, Mualem mengaku Indonesia saat ini sudah di ambang kehancuran.
“Kita melihat pada masa ini, bahwa negara kita Indonesia keadilan entah ke mana dan demokrasi entah ke mana. Jadi kita sama-sama melihat Indonesia di ambang kehancuran dari segi apa saja. Kita ikut merasa sedih melihat keadaannya. Itu sebabnya, Pak Pangdam saya minta maaf, Aceh mungkin ke depan lebih baik kita minta referendum saja,” kata Eks Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017 ini disambut tepuk tangan tamu undangan kala itu.
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengapresiasi pernyataan Muzakir. Dia berharap ke depan Muzakor tidak terbawa emosi sebelum mengeluarkan pendapat. “Saya pikir jangan mengembangkan sikap emosi untuk kepentingan eksistensi sebuah negara, ini nggak bener. Jangan karena Pemilu terus kalah, emosi, mengatakan sesuatu. Makanya saya katakan, sepanjang itu hanya wacana akademik, ya biarin aja. Toh akhirnya nanti akan hilang sendirinya. Karena masyarakat Indonesia semuanya sudah bersepakat NKRI harga mati,” ujar Moeldoko di gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat dua hari lalu. (FMM)
