Ini Kriteria Menag Menurut KH Masduki Baidlowi

Masduki Baidlowi
Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi MUI KH Masduki Baidlowi. [net]

Inisiatifnews – Kabar reshuffle kabinet mulai berhembus. Selain itu, susunan kabinet Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf juga mulai hangat diperbincangkan. Lantas siapa yang cocok untuk mengisi menteri agama?

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Drs. KH. Masduki Baidlowi menyampaikan, Menag saat ini, Lukman Hakim Saifuddin telah menjalankan amanahnya dengan baik. Namun, kebijakan reshuffle adalah hak penuh Presiden Jokowi. Artinya, jika harus terjadi penggantian, beberapa kriteria ideal harus ada di dalam diri menteri agama berikutnya.

Bacaan Lainnya

“Saya kira cukup baik Pak Lukman. Kalau dipertahankan atau tidak kan itu urusannya presiden. Kita nggak boleh menilai apakah harus dipertahankan atau tidak. Tapi beliau cukup baik,” kata Masduki kepada inisiatifnews.com, Sabtu (11/05/2019).

Masduki memaparkan, calon Menag harus memiliki perhatian khusus terhadap isu pendidikan. Bisa dari yang punya background akademisi, bisa juga berlatar belakang aktivis. “Atau seorang ulama yang punya kepedulian terhadap pendidikan misalnya, juga bisa,” ujar Cak Duki, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut, kriteria ideal Menteri Agama disebut Cak Duki ada beberapa poin. Pertama, adalah sosok yang mampu mengurusi dan memperbaiki lembaga-lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementrian Agama.

Isu sentralisasi pendidikan di bawah Kemenag yang kondisi mutunya masih jauh tertinggal dari kondisi pendidikan di bawah Kemendikbud yan sudah diotonomikan ke daerah. Kesenjangan mutu pendidikan ini terjadi terutama pada madrasah swasta yang, jumlahnya berpuluh-puluh kali lipat dari madrasah negeri.

“Ini menjadi tanggung jawab Kemenag ke depan, bagaimana mengatasi kesenjangan mutu pendidikan ini?” ujar Cak Duki.

Kedua, sosok yang mampu meredam radikalisme keagamaan. “Kita butuh menteri agama yang mampu memberikan landasan di hulu, bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, landasan yang punya konsentrasi mengenai kemajemukan,” tandasnya.

Ketiga, soal paham islam radikal yang selama ini abai ditangani oleh Kemenag di tingkat hulu. Seorang yang menganut paham islam radikal dan kemudian menjadi teroris, itu bisa didekati dari hulu sampai ke hilir.

Menteri Agama juga harus memiliki program dan visi terhadap tugas-tugas pembimbingan umat. Salah satunya adalah mencegah masyarakat agar tidak menjadi permisif terhadap hal-hal berbau penyimpangan ajaran agama.

Cak Duki juga menyebut bahwa pihaknya di Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah membuat formulasi terkait peningkatan mutu pendidikan berbasis agama, peredaman terhadap radikalisme dan ide-ide pembimbingan umat.

Semua itu, terbuka untuk dielaborasi dan dieksekusi bersama Menteri dan Kementerian Agama agar terjadi sinergi besar antara pemerintah dan lembaga kemasyarakatan seperti MUI.

“Bagian hilir adalah tugas yang selama ini ditangani pihak keamanan seperti Brimob dan BNPT. Tetapi di tingkat hulu mesti ditangani okeh Kemenag, sejak di bangku sekolah dasar murid harus sudah diajari mengenai paham agama, kebangsaan dan arti kemajemukan bagi negara Indonesia. Kalau tidak, pasti akan terlambat dan berbahaya ke depannya,” imbaunya.

Selanjutnya, urusan haji, kata Cak Duki, sekarang sudah cukup baik. Artinya tinggal melakukan peningkatan menejemen untuk pengembangan-pengembangan agar mutu pelayanan haji bertambah bagus.

Senada dengan Cak Duki, Rohaniawan Katolik Romo Benny juga menyebut calon pengganti Lukman Hakim wajib memiliki kecakapan dalam hal menjaga keberagaman. Sekaligus menjadi jembatan komunikasi antar umat beragama di Indonesia. “Kriteria menteri agama kedepan ya yang bisa menjaga keberagaman, kemajemukan. Yang bisa menjadi menterinya semua agama. Mengaktualisasikan Pancasila itu, terutama sila ketiga, Persatuan Indonesia,” ujar Romo Benny.

Diharapkan ke depan muncul menteri agama yang mampu menyejukkan. Sekaligus juga menjadi komunikator masing-masing pemeluk agama. “Karena dia kan mewakili semua agama,” kata dia lagi.

Romo Benny mangatakan, apa yang telah dilakukan Lukman Hakim Saifuddin selama menjabat menteri agama sudah cukup baik. Dirinya bahkan berharap, jika memang ada penggantian di posisi tersebut, agar diisi orang-orang dengan kualitas setara dengan menteri sebelumnya.

“Pak Lukman itu cukup inklusif ya, dan pluralis. Sebagai menteri agama dia bisa diterima oleh semua pihak dan golongan. Beliau jadi figur pemersatu. Mampu menjadi jembatan komunikasi antar semua unsur yang ada di Indonesia. Ya yang nanti dibutuhkan ya menteri-menteri seperti model pak Lukman itu,” tandas Romo Benny.

[FM]