Teror di Selandia Baru Bisa Bangunkan Sel Tidur Kelompok Radikal

Stanislaus Riyanta
Stanislaus Riyanta

Inisiatifnews – Pengamat intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta menilai bahwa serangan teroris di sebuah Masjid di kota Christchurch siang tadi bisa memantik serangan balasan dari kelompok radikal yang ingin melakukan aksi balas dendam.

“Aksi teror di Selandia Baru tersebut berpotensi membangkitkan sel tidur kelompok radikal untuk melakukan aksi balas dendam,” kata Stanislaus dalam siaran persnya yang diterima Inisiatifnews.com, Jumat (15/3/2019).

Bacaan Lainnya

Maka dari itu, ia pun meminta agar semua negara di dunia yang ditempati kelompok yang memiliki paham dan ideologi yang berlawanan dengan pelaku teror tersebut, agar mewaspadai gejolak yang muncul. Bisa jadi mereka melakukan serangan balik atau melakukan aksi-aksi perlawanan sejenis.

“Negara-negara yang mempunyai atau menjadi basis kelompok radikal, dengan ideologi yang berlawanan dengan pelaku aksi teror di Selandia Baru, patut waspada,” terangnya.

Dua negara di Asia Tenggara yang menjadi perhatian Stanislaus adalah Indonesia dan Filipina. Dimana dua negara tersebut juga terkenal dengan keberadaan kelompok yang dimaksudnya itu.

“Indonesia dan Filipina termasuk daerah yang harus memperhatikan fenomena ini, mengingat potensi terjadi aksi balas dendam sebagai solidaritas terhadap korban teror di Selandia Baru sangat dimungkinkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Stanislaus yang sangat concern dengan isu keamanan dan intelijen itu menegaskan kembali, bahwa serangan terorisme tidak selalu menyasar pada negara-negara yang memiliki kerentanan dijejali dengan paham ekstremis.

Bahkan menurutnya, sekelas Selandia Baru saja yang terkenal dengan negara yang sangat aman dari paham radikal dan aksi terorisme saja bisa terjadi hal semacam itu.

“Aksi teror di Selandia Baru yang menyerang tempat ibadah membuktikan bahwa radikalisme dan terorisme dapat terjadi di mana saja,” ujarnya.

“Selandia Baru selama ini termasuk negara yang ralatif aman dari aksi teror. Namun dengan fenomena ini maka kewaspadaan terhadap ancaman terorisme harus ditingkatkan, mengingat aksi tersebut sudah terjadi dan menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit,” tutup Stanislaus.

Aksi aparat dan tim medis pasca serangan teror di sebuah Masjid di Selandia Baru. [foto : AFP Document]

Perlu diketahui bahwa baru saja Selandia Baru dilanda aksi terorisme, dimana jamaah Shalat Jumat di sebuah masjid diberondong timah panas oleh 4 orang pelaku yang tak bertanggungjawab.

Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern pun mengecam keras aksi penembakan brutal di dua masjid yang ada di Christchurch yang menewaskan total 40 orang itu.

Bahkan dengan tegas, PM Adern menyebut penembakan brutal ini sebagai serangan teroris.

“Kami meyakini 40 orang kehilangan nyawa mereka dalam aksi kekerasan ekstrem ini,” ucap PM Ardern dalam konferensi pers seperti dilansir Reuters, Jumat (15/3).

“Sudah jelas bahwa ini sekarang hanya bisa disebut sebagai sebuah serangan teroris,” tegas PM Ardern.

[NOE]