Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah Jangan Lagi Tanpa Dukungan Kebijakan Fiskal

Ekonom, Halim Alamsyah, dalam program Bicara Ekonomi Politik (BEP) di YouTube Terus Terang Media, Rabu (07/10/2026). Foto: Wahyu Suryana
Ekonom, Halim Alamsyah, dalam program Bicara Ekonomi Politik (BEP) di YouTube Terus Terang Media, Rabu (07/10/2026). Foto: Wahyu Suryana

Ekonom senior, Halim Alamsyah mengatakan, risiko pelemahan nilai tukar rupiah memang akan dihadapi Indonesia. Hal itu dikarenakan ada kecenderungan suku bunga yang ada di Amerika Serikat (AS) naik, yang tentu saja tidak bisa kita hindari.

Halim mengingatkan, dolar sudah pasti selalu menjadi pillihan orang ketika terjadi gejolak yang tinggi di ekonomi dunia. Namun, ia merasa, tekanan inflasi di AS bisa saja turun, tergantung apa yang terjadi di pemilihan umum pada November 2026 nanti.

“Membuat pasar akan jadi lebih yakin bahwa suku bunga di sana mungkin tidak akan cepat naik, atau sebaliknya kita tidak tahu. Tapi, paling tidak itu akan membuat Donald Trump tidak akan seleluasa seperti dulu. Itu yang membuat mungkin ekonomi dunia itu akan lebih tidak volatil, lebih tenang sedikit,” kata Halim kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program B.E.P di YouTube Terus Terang Media, Rabu (07/10/2026).

Untuk menghadapi itu, ia menekankan, kebijakan-kebijakan fiskal yang dilaksanakan Menteri Keuangan (Menkeu), Suahasil Nazara, harus betul-betul dipandang kredibel. Bisa dilihat dari suku bunga yang ditawarkan pemerintah turun, stabil, atau naik.

Halim mengingatkan, jika ada kecenderungan naik berarti ada sesuatu oleh investor dan membuat mereka tidak percaya. Namun, ia menekankan, beban membuktikan dirinya cukup kredibel tidak cuma dimiliki Kemenkeu, tapi tentu saja oleh BI itu sendiri.

“BI-nya sendiri harus dinilai oleh pasar cukup kredibel, dua-duanya harus kredibel. Jadi, sektor luar negeri mudah-mudahan berbalik arah in favor atau mendukung posisi kita di Indonesia, fiskal harus kredibel, moneternya juga harus dianggap kredibel,” ujar Halim.

Bagi Halim, kalau semua berjalan baik atau berjalan sesuai harapan, situasi itu akan betul-betul menurunkan tensi yang sudah cukup tinggi beberapa bulan terakhir. Sebab, seperti yang kita saksikan, tensi ekonomi semakin naik sejak Oktober 2025.

Bahkan, lanjut Halim, tensi seakan tidak berhenti sampai beberapa bulan terakhir. Ia mengaku cukup khawatir karena BI sebenarnya sudah pada level yang ketika dia harus melakukan stabilisasi nilai tukar, malah akan memasuki situasi yang bahaya.

“Dia kalau lakukan lagi langkah-langkah untuk katakan melalui stabilisasi nilai tukar tanpa didukung oleh kebijakan fiskal, kita akan masuk ke wilayah yang sangat berbahaya, menurut saya. Karena, kurs kita akan bisa melayang-layang,” kata Halim.

Halim menambahkan, Indonesia memiliki pengalaman yang sangat traumatik saat nilai tukar melayang-layang pada 1997-1998 lalu. Yang mana, ia menekankan, pasar dan masyarakat sudah tidak percaya, berapa pun cadangan devisa yang kita miliki.

Maka itu, Halim menaruh harapan kepada Menkeu baru, Suahasil Nazara maupun Gubernur BI baru, Destry Damayanti bisa menjaga kredibilitasnya. Harapan itu bisa ditunjang sosok mereka yang dikenal merupakan orang-orang yang memang cenderung konservatif.

“Doomsday skenario itu maksud saya mudah-mudahan itu jauh lah. Karena, saya yakin dengan Menteri Keuangan yang baru, juga Gubernur Bank Indonesia yang baru, ini orang-orang yang memang secara in their blood memang orang yang memang cenderung konservatif, bisa menjaga kredibilitas dari kebijakan fiskalnya dan moneternya,” ujar Halim. (WS05)

Temukan kami di Google News.