Mahfud MD Jawab Stigma-Stigma Orang Madura, dari ‘Ngeyel’ sampai ‘Nyuri’ Besi Tua

(tangkapan layar) Tokoh Madura, Mahfud MD, bersama para pemain film 'Foufo' seperti Tretan Muslim, Bayu Skak, dan Inaya Wahid di Epicentrum XXI, Jumat (03/07/2026). Foto: Wahyu Suryana
(tangkapan layar) Tokoh Madura, Mahfud MD, bersama para pemain film 'Foufo' seperti Tretan Muslim, Bayu Skak, dan Inaya Wahid di Epicentrum XXI, Jumat (03/07/2026). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura, Mahfud MD, menghadiri pemutaran perdana film ‘Foufo’ yang memadukan petualangan luar angkasa dengan budaya Madura. Saat berbincang dengan para pemain, Mahfud mengomentari stigma-stigma yang selama ini cukup lekat dengan orang Madura.

“Bagus ya, karena ya stigma tentang orang Madura ada positifnya ada negatifnya. Positifnya itu blak-blakan, berani untuk berkata yang benar-benarnya. Tapi, kadang terlalu lugu, kadang akalnya banyak, pintar mencari jawaban, mencari jalan, tapi tidak licik,” kata Mahfud dalam YouTube Tretan Universe, Senin (06/07/2026).

Mahfud turut menjawab salah satu stigma orang Madura yang selama ini dikenal ‘ngeyel’ atau kerap kepala, tidak mau mengalah, dan kukuh atas pendapatnya. Ia berpendapat, memang satu budaya Madura yang ada ketika bicara selalu sampai tuntas.

“Ya mungkin saja ya. Kalau saya sebagai orang Madura ya merasa memang begitulah budaya Madura, kalau bicara terus-terus sampai tuntas gitu, tidak disembunyikan. Itu bukan ngeyel ya, ingin clear saja,” ujar pakar hukum tata negara tersebut.

Terkait stigma kalau orang Madura kerap terlibat pencurian besi tua, ia melihat, stiga itu malah berkembang pula di luar negeri. Mahfud menduga, jangan-jangan kreativitas menjual kembali besi tua dikenalkan pertama kali oleh orang Madura.

Mahfud turut membantah hilangnya jalur-jalur kereta api yang sebenarnya sudah dibangun di zaman Belanda dan berlangsung cukup baik di Madura. Bahkan, Mahfud sendiri masih ingat sempat merasakan kereta api dari Pamekasan ke Bangkalan.

“Saya dulu masih naik kereta, tahun 1971-72, kereta dari Pamekasan ke Bangkalan. Tidak ya, dulu juga aman kok, karena dulu jadi besi tua saja lalu diambil, karena keretanya tidak operasional lagi, kalau masih ada tidak mungkin,” kata Mahfud.

Meski begitu, Mahfud tidak membenarkan pencurian besi-besi tua yang berasal dari fasilitas publik. Salah satunya kasus tindak pidana pencurian baut atau mur yang ada di Jembatan Suramadu, yang banyak dituding dilakukan oleh orang-orang Madura.

Mahfud menegaskan, pencurian apapun barang yang diambil tetap saja merupakan tindakan kriminal dan siapa saja pelakunya harus ditindak dan ditangkap. Ia meyakini, aparat penegak hukum bisa dengan mudah mengetahui siapa pelakunya.

“Kan saya dengar (kasus pencurian baut dan mur) yang terakhir itu kan dari lima orang yang empat kan orang Gresik, tidak semua orang Madura,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.