RI Kecam Israel, Desak 5 WNI Ditangkap Di Perairan Mediterania Dibebaskan

Puluhan kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang tengah menjalankan misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina, dicegat tentara Israel di perairan Meditetania.

Pasukan zionis juga menyerang kapal-kapal yang mengangkut bantuan untuk warga Gaza di perairan internasional. Sedikitnya 100 aktivis dari berbagai negara, termasuk 5 Warga Negara Indonesia (WNI) ditahan.

Bacaan Lainnya

Dilansir AFP, Senin (18/5/2026), lebih dari 50 kapal Global Sumud Flotilla 2.0 ini sedang menjalankan misi terbaru mereka menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza.

Misi tersebut melibatkan total 426 peserta dari 40 negara, di antaranya dari Jerman, Amerika Serikat, Argentina, Australia, Bahrain, Brasil, Aljazair, Maroko, Prancis, Afrika Selatan, Inggris, Irlandia, Spanyol, Italia, Kanada, Mesir, Pakistan, Tunisia, Oman, Selandia Baru, dan Indonesia. Misi serupa juga dicegat Israel bulan lalu.

Puluhan kapal berisi bantuan pangan seperti susu bayi dan ratusan aktivis lintas latar belakang ini berlayar sejak Kamis (14/5/2026) pekan lalu. Mereka berangkat dari distrik Marmaris di perairan Mediterania dekat Turki. Tujuannya menyampaikan bantuan kepada korban atas krisis kemanusiaan akibat gempuran dan blokade Israel sejak Oktober 2023.

Memasuki perairan sebelah barat Siprus sekitar pukul 10:30 Senin (18/5/2026) waktu setempat, kapal-kapal ini disergap tentara Israel. Sejumlah siaran langsung dari aktivis yang berada di atas kapal menampilkan aksi keji Angkatan Laut Israel menyerang dan menaiki kapal satu demi satu.

“Global Sumud Flotilla sedang diserang! Israel sekali lagi secara ilegal dan dengan kekerasan mencegat armada kapal-kapal kemanusiaan kami dan menculik relawan kami di perairan internasional,” tulis penyelenggara GSF dalam pernyataan via media sosial X, Senin (18/5/2026).

Penyelenggara misi, GSF, menyebut armadanya terdiri dari kapal-kapal sipil tak bersenjata termasuk tenaga medis, jurnalis, dan relawan.

Salah satu peserta dari Indonesia, yakni jurnalis Republika Bambang Noroyono sempat mengunggah status di WhatsApp berisi posisi terakhirnya di sebelah barat Siprus. Dia juga mengirimkan pesan video sebelum tak bisa dihubungi sama sekali.

“Saya Bambang Daryono alias Abeng. Saya warga Indonesia. Saya adalah partisipan pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026,” ucapnya.

Dia meminta Pemerintah Indonesia membantu pembebasannya. “Saya mohon agar pemerintah Republik Indonesia membebaskan saya dari penculikan tentara penjajah Zionis Israel dan meminta Pemerintah Indonesia agar selalu mendukung kemerdekaan Palestina,” katanya.

Peserta lainnya, Wartawan Tempo TV, Andre Prasetyo Nugroho juga mengirim video pesan darurat. Andre juga mengirimkan video serupa berdurasi 53 detik kepada tim GPCI.

“Apabila kawan-kawan sudah menonton video ini, tandanya saya telah ditangkap oleh rezim Zionis Israel,” ujar Andre.

Harian lokal Israel, Yedioth Ahronoth, melaporkan, pasukan Israel menahan para aktivis di atas kapal dan memindahkan mereka ke sebuah kapal Angkatan Laut. Selanjutnya mengangkut mereka ke pelabuhan Ashdod di Israel bagian selatan.

5 WNI Ditahan

Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) mengumumkan lima WNI ditangkap dalam misi ini. Kelima WNI yang ditangkap Israel diidentifikasi sebagai aktivis Andi Angga Prasadewa, jurnalis Republika Bambang Noroyono, jurnalis Republika Thoudy Badai, jurnalis TV Tempo Andre Prasetyo, dan jurnalis iNews Heru Rahendro.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia mengecam keras tindakan Israel. Dari data Kemlu, sedikitnya 10 kapal misi kemanusiaan telah ditahan, termasuk Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys.

Dalam salah satu kapal, Josef, terdapat seorang WNI, Andi Angga Prasadewa, delegasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Rumah Zakat. S<span;>ementara itu, satu kapal lain yang membawa jurnalis Indonesia dari Republika, Bambang Noroyono, hingga kini belum dapat dihubungi.

“Kapal yang membawa jurnalis Bambang Noroyono sampai saat ini masih belum dapat dihubungi dan belum diketahui statusnya,” kata juru bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang.

Berdasarkan informasi, dari total 9 WNI anggota Global Peace Convoy Indonesia, 4 WNI lainnya yang berada di 2 kapal masih berlayar di sekitar perairan Siprus. K<span;>emlu menyebut situasi di lapangan masih dinamis dan terus berkembang.

“Situasi di lapangan masih sangat dinamis. Keempat WNI yang masih berlayar tetap berada dalam kondisi rawan dan sewaktu-waktu dapat mengalami intersepsi atau penangkapan oleh militer Israel,” katanya

Pemerintah Indonesia mendesak Israel segera membebaskan seluruh kapal dan aktivis kemanusiaan internasional yang ditahan. “Serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional,” tambah Yvone.

Kemlu menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman untuk menyiapkan langkah antisipatif, termasuk perlindungan dan kemungkinan pemulangan WNI.

Pimpinan Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, menegaskan keselamatan jurnalisnya harus menjadi perhatian serius.

“Keselamatan dua jurnalis Republika yang menjalankan tugas jurnalistik dan kemanusiaan menjadi perhatian serius kami,” ujarnya.

Republika juga mengecam tindakan intersepsi tersebut. T<span;>indakan ini pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, serta kebebasan sipil warga dunia yang membawa bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid juga mengecam keras tindakan militer Israel. Di tengah situasi konflik, keselamatan WNI, Termasuk insan pers harus selalu menjadi perhatian utama.

Meutya Hafid menegaskan, jurnalis hadir untuk membawa suara kemanusiaan dan menyampaikan fakta kepada publik dunia. Karena itu, kerja jurnalistik perlu dihormati dan diberikan ruang aman.

Menkomdigi menyatakan pihaknya mendukung langkah diplomatik Kemlu untuk memastikan perlindungan dan keselamatan seluruh WNI dalam rombongan.

“Kemkomdigi akan terus berkoordinasi dengan Kemlu dan pihak terkait lainnya untuk memantau perkembangan dan mendukung langkah perlindungan,” tegasnya.

Wakil Ketua DPR Saan Mustopa meminta Pemerintah segera memastikan keselamatan seluruh WNI yang terlibat dalam misi ini.  “Saya yakin Pemerintah juga akan menaruh perhatian yang besar atas peristiwa ini,” kata Saan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin meminta, Kemlu RI segera mengaktifkan jalur diplomasi back-channel, serta memanfaatkan instrumen multilateral untuk memastikan keselamatan seluruh WNI.

“Pemerintah harus bergerak cepat melalui jalur diplomasi bilateral maupun multilateral. Indonesia perlu menggalang dukungan di Dewan Keamanan PBB, serta meminta Komite Internasional Palang Merah (ICRC) melakukan intervensi langsung demi memastikan keselamatan WNI,” desaknya.

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat meminta Pemerintah Indonesia menggunakan jalur diplomatik untuk membebaskan para wartawan dan warga sipil lainnya yang ditangkap militer Israel. “Termasuk membantu pemulangannya ke Indonesia,” tulis Komaruddin d<span;>alam keterangan tertulis, Selasa (19/5/2026).

Israel Klaim Gagalkan Rencana Jahat

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu justru memuji aksi Angkatan Laut Tel Aviv dalam mencegat kapal-kapal armada GSF. Kata Netanyahu,  pencegatan ini telah menggagalkan rencana jahat untuk menerobos blokade atas Gaza.

“Saya meyakini Anda melakukan pekerjaan yang luar biasa. Pada intinya telah menggagalkan rencana jahat yang dirancang untuk melanggar blokade yang telah kita terapkan terhadap teroris Hamas di Gaza,” kata Netanyahu kepada komandan militer yang memimpin pencegatan kapal-kapal Global Sumud Flotilla, seperti dilansir AFP, Selasa (19/5/2026).

“Anda melaksanakannya dengan sangat sukses. Lanjutkan hingga akhir,” ujar PM Israel itu.

Kemlu Israel dalam pernyataan terpisah mengecam konvoi kemanusiaan GSF yang dinilai sebagai bentuk provokasi. Kemlu Israel bilang, militernya akan mencegah mereka mencapai Gaza.

Juru bicara Kemlu Israel, Oren Marmostein, membantah ada bantuan kemanusiaan di kapal-kapal yang dicegat. “Sejauh ini, belum ditemukan bantuan kemanusiaan di kapal-kapal mereka,” tegas Marmorstein dalam pesan teks kepada jurnalis.

Dia juga membantah klaim yang menyebut Gaza menghadapi kekurangan bantuan kemanusiaan.

“Jalur Gaza dibanjiri bantuan. Sejak Oktober saja, lebih dari 1,58 juta ton bantuan kemanusiaan dan ribuan ton pasokan medis telah masuk ke Gaza,” klaimnya.

Temukan kami di Google News.