Ternyata Ini Alasan Gen Z Lebih Suka Pakai Gaji untuk Balas Dendam atau Kepuasan Instan

Perencana keuangan, Yodhi Kharismanto, dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (19/02/2026). Foto: Wahyu Suryana
Perencana keuangan, Yodhi Kharismanto, dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (19/02/2026). Foto: Wahyu Suryana

Generasi Z yang lahir pada rentang 1997-2012 menjadi salah satu kelompok masyarakat yang ketika lahir sudah tersedia teknologi semaju hari ini. Sayangnya, mereka turut lahir pada suasana-suasana krisis yang membuat pekerjaan menjadi sulit didapatkan.

Perencana keuangan, Yodhi Kharismanto mengatakan, kondisi itu membuat ketika mereka akhirnya bisa menikmati memiliki pekerjaan cenderung akan memenuhi keinginan lama. Apalagi, dulu tidak memiliki penghasilan atau minimal masih dijatah orang tua.

“Nah, saat pendapatannya sudah hadir, dia merasa ada, mungkin balas dendam kali ya untuk bisa menikmati kehidupannya dengan senyaman mungkin, sehingga saat gajinya datang kecenderungannya akhirnya dia menggunakan untuk menikmati hal-hal yang dia tidak bisa nikmati sebelumnya,” kata Yodhi kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (19/02/2026).

Ia menerangkan, kondisi itu turut membuat Gen Z banyak yang menyukai present bias atau bias masa kini. Hal itu merupakan kecenderungan psikologis manusia untuk lebih memilih imbalan-imbalan kecil yang bisa dinikmati segera daripada di masa depan.

Yodhi berpendapat, semakin tidak terjangkau barang-barang investasi seperti rumah atau tanah membuat mereka semakin menikmati present bias. Sebab, imbalan-imbalan kecil itu memang memungkinkan mereka dapat menikmati kepuasan secara instan.

“Lebih senang untuk mendapat instant gratification sekarang daripada nanti karena saking sulitnya untuk bisa rumah, mobil, tanah, gitu kan, karena orang-orang dari zaman dulu kan selalu bilang jangan lupa nanti investasi ke tanah ya, ke mobil ya, mereka kan tidak tahu, zaman sekarang untuk dapat itu susah banget,” ujar Yodhi.

Yodhi mencontohkan Yogyakarta. Di sana, ia menerangkan, dengan masyarakat yang memiliki Upah Minimum Regional (UMR) cukup rendah sekitar Rp 2,4 juta tentu saja sangat sulit memiliki rumah atau tanah yang harganya sudah sangat tinggi hari ini.

Menurut Yodhi, hal-hal seperti itu semakin membuat Gen Z memiliki kecenderungan keputusasaan untuk membeli produk-produk investasi masa depan. Karenanya, daripada sesuatu yang sulit diraih, lebih baik menikmati apa yang sangat mudah didapatkan.

“Itu sebenarnya wajar ya, bukan berarti kita menyalahlah, bukan berarti itu salah untuk menyenangi diri sendiri, itu wajar sekali cuma jangan sampai akhirnya lupa diri ya dan berlebihan, self reward boleh tapi kalau dikalkulasi dengan matang,” kata Yodhi. (WS05)

Temukan kami di Google News.