Intelektual Duga Anjloknya Bursa Saham Turut Dipengaruhi Media Sosial

Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (01/02/2026). Foto: Wahyu Suryana
Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (01/02/2026). Foto: Wahyu Suryana

Intelektual, Hamid Basyaib, mengomentari anjloknya bursa saham yang ditandai merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai 8 persen. Kondisi itu memang membuat kepanikan luar biasa walau sebenarnya penurunan itu bukan yang terbesar.

Hamid menerangkan, kondisi itu membuat panic sell, banyak yang buru-buru menjual sahamnya karena takut mengalami kerugian besar. Di sisi lain, ada investor-investor yang memiliki modal besar tentu saja menanti untuk memborong saham-saham tersebut.

Dari sini, lanjut Hamid, terlihat jelas bahwa bursa saham yang langsung terkait dengan uang itu memang memiliki sensitivitas yang berlipat-lipat ganda. Artinya, sedikit saja tersenggol dia bisa menimbulkan semacam circuit breaker yang besar.

“Tapi, saya duga, ini mungkin saya salah, kondisi panik sekarang ini juga bisa disumbang banyak oleh meriahnya media sosial dan dengan media sosial kayak gini, semua orang bisa komentar,” kata Hamid kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (01/02/2026).

Sebab, ia mengingatkan, jika dulu pemain saham sekitar 300 ribuan, tapi sekarang angkanya sudah 20 juta orang. Bisa dibayangkan mereka yang mungkin kesal karena sudah menggunakan tabungannya, lalu berkomentar dan marah-marah di media sosial.

“Lalu, makian ini dimunculkan oleh beribu-ribu orang di seluruh Indonesia, situasi jadi repot sekali, sehingga 8 persen itu seperti sudah kiamat. Padahal, dulu kita pernah mengalami penurunan angka-angka yang jauh lebih dramatis ya misalnya 97-98 krisis multidimensi. Lalu, krisis moneter dan pasar saham kita IHSG-nya anjlok,” ujar Hamid.

Lalu, 2007-2008 ada subprime mortgage seperti cicilan rumah atau cicilan aset di Amerika Serikat (AS). Itu melanda hampir seluruh dunia karena investor-investor di AS mengambil dari negara-negara Skandinavia dan Indonesia turut terkena dampaknya.

Lalu, ketika Covid-19 yang membuat IHSG kita anjlok 37 persen. Namun, pemulihan terbilang cepat karena ada program-program internasional yang hebat, pemimpin-pemimpin global membuat imbauan semangat seperti ‘recover together’ serentak.

“Waktu itu kita 37 persen melorotnya dan dengan cepat pulih. Jadi, kalau kita lihat sejarahnya memang crash dan pulih itu memang waktunya bisa beda-beda,” kata Hamid. (WS05)

Temukan kami di Google News.