Mahfud MD: Akademisi Boleh Salah, tapi Akademisi tidak Boleh Bohong

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (27/01/2026). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (27/01/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengatakan, dalam negara yang baik negara dan rakyat harus sama-sama berperan. Ia menekankan, jika masyarakat memberi saran atau masukan, pemerintah sebagai representasi pilihan rakyat harus terbuka dan sadar.

“Harus sadar bahwa pada setiap orang itu pasti ada kelemahan, ada kekurangan, sehingga jangan merasa benar sendiri,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (27/01/2026).

Tapi, Mahfud melihat, saat ini memang ada masalah yang dihadapi masyarakat sipil. Ia mengingatkan, Indonesia setelah melalui Reformasi terbilang sangat maju selama beberapa tahun pertama dan lembaga-lembaga negara seperti Polri sekalipun bagus.

Ia mengingatkan, pemerintahan yang ada hari ini pun lahir dari masyarakat sipil yang mengubah saat itu. Karenanya, Mahfud menegaskan, pemerintah harus mau bekerja sama dengan masyarakat sipil. Sayang, hari ini masyarakat sipil posisinya lemah.

Bahkan, ia berpendapat, banyak yang hari ini melompat menjadi masyarakat negara. Maka itu, Mahfud mengajak masyarakat sipil, terutama akademisi, untuk senantiasa bersuara mengingatkan pemerintah sebagai tanggung jawab moral seorang intelektual.

“Kita harus tetap bersuara sebagai bentuk tanggung jawab kita, moral akademis kita itu mengajarkan begini, Anda boleh salah dalam berbicara, mungkin karena salah data tapi Anda tidak boleh berbohong, katakan kebenaran itu meski pahit,” ujar Mahfud.

Dalam agama Islam, ia menerangkan, ada hadits Rasulullah SAW yang menyatakan qulil haqq walau kana murran. Artinya, katakanlah yang benar itu meskipun pahit, meskipun kamu menerima akibat. Bahkan, ada hadits tentang jihad berkata benar ke penguasa.

“Sebaik-baik perjuangan, jihad, adalah kamu berbicara benar di depan penguasa yang salah,” kata Mahfud.

Ia mengingatkan, tantangan ke depan tidak ringan dan 2026 banyak disebut akan jadi ujian bagi perekonomian, politik, hukum, dan daya tahan demokrasi. Sebab, Mahfud menambahkan, jika gagal di tahun kedua, tahun ketiga atau 2027 sudah sibuk politik.

“Oleh karena itu, mari kita terus jaga nalar sehat kita, keberanian bersikap dan komitmen pada konstitusi karena kita tidak akan pernah lelah mencintai Indonesia,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.