Pentingnya Validasi Emosi Tanpa Memaksa, Salah Satu Pertolongan Pertama Psikologis

(ilustrasi) Seorang anak yang sedang menggambar wajah senyum di tembok. Foto: Istimewa
(ilustrasi) Seorang anak yang sedang menggambar wajah senyum di tembok. Foto: Istimewa

Psikolog klinis, Phoebe Ramadina, membagikan kiat-kiat yang bisa dilakukan dalam membantu pertolongan pertama psikologis (PFA). Ia menekankan, pertolongan pertama psikologis tersebut dapat dilakukan oleh siapapun dan di manapun untuk membantu.

Tujuannya, membantu merasa lebih tenang, aman, dan mampu mengambil keputusan dasar. Ia menyampaikan, langkah awal pertolongan yang bisa dilakukan memastikan keamanan fisik, seperti berpindah ke tempat yang lebih aman atau memenuhi kebutuhan dasar.

Kebutuhan bisa berupa air, makanan, tempat istirahat, maupun pakaian. Kemudian, lanjut Phoebe, validasi emosi sebagai langkah penting. Ia menerangkan, salah satu langkah yang bisa dilakukan dengan memberikan kesempatan individu bercerita

“Tanpa memaksanya untuk membuka semua detail, dan dengarkan dengan penuh perhatian, gunakan nada suara yang menenangkan, dan hindari meremehkan perasaannya,” kata Phoebe, Rabu (03/12/2025).

Kemudian, bisa membantu mendorong agar fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan seperti membuat rencana sederhana untuk beberapa jam ke depan. Serta, melakukan teknik grounding atau pernapasan perlahan dapat membantu menurunkan ketegangan.

“Jika memungkinkan, bantu menghubungkan mereka dengan dukungan sosial terdekat, seperti keluarga, tetangga, atau relawan. Masyarakat juga dapat mengakses layanan mental health,” ujar Phoebe.

Phoebe turut menyampaikan sejumlah tanda perubahan fisik, emosi, dan perilaku saat alami stres dan cemas, yang termasuk sangat mungkin muncul di saat terjadi bencana. Seperti tegang otot, sakit kepala, sulit tidur, jantung berdebar, atau mudah lelah.

Ia menilai, secara emosional seseorang mungkin merasa gelisah, takut berlebihan, mudah tersinggung, atau merasa kewalahan dan perilaku sehari-hari dapat berubah. Misal, menjadi lebih menarik diri, sulit berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan atau mengecek berita dan informasi tentang bencana yang terjadi terus-menerus

“Jika tanda-tanda ini bertahan lama, semakin mengganggu aktivitas, atau memicu perilaku berisiko, ini merupakan sinyal bahwa individu membutuhkan bantuan lebih lanjut,” kata Phoebe.

Phoebe melihat, ketika seseorang terpapar secara berlebih terhadap berita bencana dapat memicu disaster-related stress. Jadi, penting untuk memilah sumber informasi dengan bijak. Ada pula regulasi emosi yang bisa diterapkan dalam kondisi tertentu.

Khususnya, lanjut Phoebe, bila tubuh mulai menunjukkan gejala cemas, napas cepat, dada sesak, atau pikiran berputar. Regulasi emosi itu seperti menerapkan teknik pernapasan diafragma, grounding 5-4-3-2-1, atau istirahat sejenak dari layar.

Perlu pula dilakukan pembatasan waktu melihat dan membaca berita atau mencari informasi. Misalnya, hanya 2-3 kali sehari pada jam-jam tertentu dan memilih sumber informasi resmi agar tidak terjebak ke konten-konten spekulatif atau dramatis.

Kemudian, Phoebe menambahkan, dapat pula membangun rutinitas yang menyeimbangkan paparan berita dengan aktivitas yang menenangkan yang sederhana. Seperti berjalan kaki, journaling, atau berbicara dengan orang yang dapat memberikan rasa aman.

“Ingatkan diri bahwa menjaga kesehatan mental bukan berarti mengabaikan situasi, tapi memastikan kita tetap mampu berpikir jernih dan mengambil keputusan tepat,” ujar Phoebe. (Antara/WS05)

Temukan kami di Google News.