Mahfud MD Ingatkan Polisi, Berani Lawan Atasan yang Salah Ada di Kode Etik Polri

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (29/11/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (29/11/2025). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengatakan, ada produk pendidikan Polri masa lalu yang doktrinnya mengharuskan mengabdi untuk negara dan rakyat. Jadi, dalam keadaan apapun seorang polisi tidak akan mengkhianati negaranya dan rakyatnya.

Sayangnya, ia merasa, doktrin-doktrin seperti itu banyak melekat hanya ke polisi-polisi era lama. Yang mana, Mahfud melihat, masih begitu ditekankan perjuangan seperti Hoegeng. Sedangkan, kini lebih banyak ke doktrin fisik, doktrin kekerasan.

“Kalau latihan itu kan disuruh push up, disuruh apa, dipentung begitu, tapi hatinya tidak disentuh dengan doktrinnya, bukan hati dan kognisinya yang disentuh, tapi ke fisik,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (29/11/2025).

Mahfud menekankan, latihan fisik tentu penting bagi seorang polisi. Namun, ia menyayangkan, latihan yang dipenuhi kekerasan itu sesudah menjadi polisi malah kerap dibawa ke masyarakat, bukan mengabdi, empati atas kehidupan masyarakat.

Padahal, ia mengingatkan, dalam kode etik Polri sebenarnya ada doktrin tentang pengabdian kepada negara, pengabdian kepada rakyat. Bahkan, mengharuskan polisi berani untuk melawan perintah atasan ketika perintah itu salah, perintah keliru.

“Bahkan, begini, saya baru tahu kemarin Pak Susno, di polisi itu ternyata di dalam kode etiknya itu ada ketentuan berani melawan atasan kalau salah. Sekarang, tidak ada yang berani,” ujar Mahfud saat berbincang dengan eks-Kabareskrim, Susno Duadji.

Mahfud berpendapat, hari ini sudah tidak ada polisi yang mau menegur atasannya ketika berbuat salah, berkata salah. Hari ini, semua polisi tampak lebih memilih ke pinggir saja ketika atasannya berbuat salah atau ketika atasnnya berkata salah.

Menurut Mahfud, semangat seperti ini harus diajarkan kembali ke polisi agar menjadi polisi rakyat. Sebab, ia menyampaikan, hari ini orang menjadi maklum TNI masuk ke jabatan-jabatan sipil, bukan karena setuju, tapi karena kecewa dengan kepolisian.

“Orang kemudian menjadi maklum kalau tentara sekarang itu masuk ke bidang-bidang yang bukan bidangnya itu karena orang sedang marah kepada polisi,” kata Mahfud.

Padahal, Mahfud menegaskan, itu seharusnya tidak boleh dilakukan TNI untuk masuk ke jabatan-jabatan sipil yang memang bukan bidangnya. Tapi, kini rakyat awam sering menyatakan tidak apa-apa karena marah kepada polisi, tidak percaya kepada polisi.

Maka itu, Mahfud menilai, rasa ini harus ditanamkan kepada kepada polisi, polisi harus memiliki lagi rasa empat kepada masyarakat, sehingga menyatu dengan rakyat. Jika tidak diperbaiki, ia merasa, akan ada kekuatan lain yang malah bisa merusak.

“Harus diranamkan kembali rasa-rasa itu tadi, empati kepada rakyat, menyatu dengan rakyat. Kemudian, berani mengingatkan atasan, menolak perintah atasan, dan kemudian melawan tapi diam-diam begitu. Pak, Bapak tadi keliru,” ujar Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.