Mengenal Zohran Mamdani, Cahaya Dalam Kegelapan Politik AS di Era Donald Trump

Wali Kota New York terpilih, Zohran Mamdani, saat pidato penerimaannya, Rabu (05/11/2025). Foto: Istimewa
Wali Kota New York terpilih, Zohran Mamdani, saat pidato penerimaannya, Rabu (05/11/2025). Foto: Istimewa

Intelektual, Hamid Basyaib melihat, fenomena Zohran Mamdani di New York tidak hanya dirasakan di AS. Dampak pemuda 34 tahun terpilih sebagai Wali Kota dari satu kota terbesar dan terpenting di AS itu dirasakan dunia.

Dalam pidato penerimaan sebagai Wali Kota New York, Zohran dengan berani menyebut New York sebagai cahaya di tengah kegelapan politik AS di bawah kekuasaan Donald Trump. Bahkan, secara frontal, Zohran menantang Trump.

“Kata Mamdani itu adalah kegelapan politik dan di tengah kegelapan politik semacam itu New York menjadi cahaya dengan terpilihnya dia,” kata Hamid kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (09/11/2025).

Bagi Hamid, Zohran istimewa dalam banyak hal. Pertama, dia menjadi Wali Kota termuda dalam seratusan tahun terakhir usai Hugh J Grant 1889-1892 lalu. Ada pula Clinton yang jadi Gubernur Arkansas pada usia 32 tahun.

Kemudian, keistimewaan lain karena Zohran sukses menaklukkan New York yang banyak disebut Jew York atau kotanya orang Yahudi. Ini dikarenakan orang Yahudi yang menguasai pusat keuangan, kesenian, dan kebudayaan.

“Yahudi-nya spektrumnya luas sekali. Ada yang sangat sekuler, ada yang Yahudi reformis, ada yang ultra religius seperti kelompok Neturei Karta namanya yang sangat anti zionis, dan yang unik juga ini seluruh spektrum Yahudi di New York itu rata-rata mendukung Zohran Mamdani,” ujar Hamid.

Banyak pula pastur-pastur dan pendeta-pendeta yang memberikan dukungan publik kepada Zohran beberapa saat sebelum pemilihan. Sesuai dugaan, pada akhirnya Zohran Mamdani betul-betul terpilih sebagai Wali Kota New York.

Menurut Hamid, ini bisa jadi inspirasi bukan hanya untuk AS, tapi buat seluruh dunia. Seorang yang notabene minoritas, Muslim, masih muda, anak imigran, tapi juga tidak pernah menutupi keislamannya atau kemuslimannya.

“Anak ini memang menurut seorang artis Lupita Nyong’o yang pernah bekerja sama dengan dia pada waktu Mamdani jadi asisten ibunya sebagai sutradara film waktu umur dia 14 tahun. Ibu Lupita bersaksi memang anak ini sejak saya kenal waktu umur 14 katanya sangat charming, sangat menyenangkan, sangat helpful terhadap kru atau artis-artis yang shooting,” kata Hamid.

Ibu Zohran, Mira Nair, merupakan sutradara film. Sedangkan, ayah Zohran, Mahmood Mamdani seorang professor antropologi di Columbia University. Walaupun Zohran lahir di Uganda, ayah dan ibu dari Zohran beretnis India.

Selain itu, ia mengingatkan, Zohran muncul di tengah sentimen negatif terhadap Muslim yang sudah berlangsung selama 20 tahun lebih karena Tragedi 911. Namun, semua itu dipatahkan Zohran yang mampu jadi sensasi.

Zohran muncul benar-benar merayap dari bawah. Mulai dari jalan raya, Zohran menunggu orang di pinggir jalan, siapa yang lewat dia tegur, dia memperkenalkan dirim dan menyampaikan niatnya maju sebagai Wali Kota.

Walau mendapat beragam respons, dari sana nama Zohran semakin dikenal luas oleh publik New York. Walau memulai kontestasi dengan popularitas sangat kecil, Zohran mampu membuktikan diri mampu taklukkan New York.

“Dalam pol waktu pertama kali dia mulai dengan popularitas, kedikenalan itu cuma 1 persen. Dalam sekian bulan saja, sangat singkat, sekarang dia dapat 51 sekian persen. Jadi, kira-kira mayoritas mutlak karena calonnya tiga, Curtis Sliwa, Andrew Cuomo dan dia 51 persen. Jadi, dia sendirian mengalahkan dua orang ini suaranya digabung jadi satu, istimewa sekali,” ujar Hamid. (WS05)

Temukan kami di Google News.