Arie Kriting Ungkap Keresahan Soal Rasis Positivity di Indonesia

Komika, Arie Kriting, dalam diskusi bertajuk Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media di Jakarta Creative Hub, Rabu (15/10/2025). Foto: Pramudya Dwi Saputra
Komika, Arie Kriting, dalam diskusi bertajuk Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media di Jakarta Creative Hub, Rabu (15/10/2025). Foto: Pramudya Dwi Saputra

Komika, Arie Kriting mengatakan, isu rasial merupakan salah satu masalah yang masih sulit dihilangkan di Indonesia. Bahkan, ia menilai, orang-orang Indonesia begitu lihai menyembunyikan hal-hal yang sebenarnya rasis, tapi dibuat seakan tidak rasis.

“Saya sebutnya itu rasis positivity, bukan hanya toxic positivity, ada yang saya sebut itu rasis positivity. Misalnya, orang China kaya, positif, tapi rasial itu. Orang Timur kuat, positif, tapi rasial itu,” kata Arie saat membuka Pemuda Merawat Nalar Bangsa yang digelar Terus Terang Media di Jakarta Creative Hub, Rabu (15/10/2025).

Bagi Arie, orang Timur kuat merupakan terminologi yang paling tidak dia sukai. Misalnya, dalam satu kelompok yang terdiri dari 5 orang dengan 1 orang Timur, ketika ada masalah di jalan 1 orang Timur yang pasti diminta maju menghadapi.

Arie mengakui, fenomena itu menimbulkan pertanyaan dalam pikiran soal apa yang membuat orang Timur diposisikan seperti itu. Sementara, ia mengingatkan, di satu sisi daerah-daerah di Timur selalu jadi yang paling tidak mendapat perhatian.

“Padahal, kalau kita survei dari data, angka gizi buruk di Indonesia itu lima teratas semua (daerah) Indonesia Timur, Pak. Ini apa-apaan Indonesia ini, kita yang kurang gizi kita juga yang harus kuat gitu, itu rasis positivity ya,” ujar Arie.

Pada kesempatan itu, Arie membagikan pengalamannya selalu dijadikan seksi keamanan dalam kegiatan-kegiatan kampus. Sampai di titik Arie pernah meminta untuk tidak dijadikan seksi keamanan, dan akhirnya dipindah untuk masuk seksi konsumsi.

“Akhirnya saya tanya, Pak, ini jobdesknya apa nih seksi konsumsi. Eh, sini Bang Arie, nah sebagai seksi konsumsi, Bang Ari lihat ya, di sini ada makanan, ada snack, ada minuman, Bang Ari jaga jangan sampai ada yang hilang, bedanya sama keamanan apa, istilahnya saja yang ganti, tugasnya itu-itu juga,” kata Arie.

Arie mengaku penasaran dengan momentum Sumpah Pemuda, ketika orang-orang muda mau bersatu dan memutuskan tujuan yang sama. Padahal, berasal dari latar belakang yang berbeda, budaya yang berbeda, bahkan tanpa ada alat komunikasi seperti sekarang.

Arie turut merasa senang dalam peristiwa sebesar Sumpah Pemuda yang jadi tonggak Indonesia, ada perwakilan orang Timur yaitu Jong Celebes dan Jong Ambon. Sayangnya, hari ini masih ada isu-isu rasial dan sikap diskriminasi, termasuk ke orang Timur.

“Tapi ya harusnya ini kita perbaiki ke depannya, jangan sampai ada lagi isu-isu rasial yang seperti ini,” ujar Arie. (WS05)

Temukan kami di Google News.