Pengamat: Keretakan Jokowi-Prabowo atau Dejokowisasi ke Gerindraisasi Terkonfirmasi jika Kapolri Diganti

Pengamat politik, Ray Rangkuti, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (10/10/2025). Foto: Wahyu Suryana
Pengamat politik, Ray Rangkuti, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (10/10/2025). Foto: Wahyu Suryana

Kedatangan mantan presiden, Joko Widodo, ke kediaman Presiden Prabowo Subianto diyakini tidak sekadar membahas masalah-masalah kebangsaan. Pengamat politik, Ray Rangkuti menilai, ada kondisi yang berbalik dalam konteks ketergantungan politik.

“Dalam bahasa yang lain kalau dulu Pak Prabowo yang banyak sekali berharap terhadap Pak Jokowi, yang seolah-olah menggantungkan nasib politiknya kepada Pak Jokowi. Nah sekarang terbalik, Pak Jokowi sekarang yang seolah-olah menggantungkan nasib politik dirinya kepada Pak Prabowo,” kata Ray kepada terusterang.id dan ditayangkan di program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (10/10/2025).

Bagi Ray, kedatangan Jokowi ke kediaman Prabowo sekaligus untuk melamarkan anaknya, Gibran Rakabuming Raka, dalam kontestasi Pilpres di 2029 mendatang. Ini menguatkan pernyataan Jokowi sebelumnya kalau Gibran sudah diplot bersama Prabowo dua periode.

“Pak Prabowo sendiri belum berpikir tentang dua periode. Bahkan, Pak Prabowo dari pidato yang sebelumnya mengatakan, ya evaluasi dulu, kalau ternyata saya tidak bisa, itu usah, sudah jauh hari itu disebutkan oleh Pak Prabowo. Jangan berpikir dua periode dulu, jangankan dua periode, satu periode belum tentu,” ujar Ray.

Kemudian, ia melihat, kedatangan Jokowi ke kediaman Prabowo menunjukkan kepada kita bahwa nasib politik Jokowi sekarang tergantung kepada Prabowo. Sebab, biasanya pertemuan-pertemuan seperti itu dipamerkan dengan foto-foto seolah-olah candid.

Kali ini, Ray merasa, tidak ada sama sekali pameran foto-foto kebersamaan mereka. Terkait apa yang membuat Jokowi merasa ketergantungan kepada Prabowo, Ray menilai, tentu saja bisa dilihat dari perkembangan sikap Prabowo menanggapi isu-isu terkini.

“Misalnya, ijazah palsu, kan sama sekali tidak ada pembelaan dari Pak Prabowo, jalan saja. Bahkan, sekarang Gibran. Tapi, dua-dua Presiden Prabowo, kalau misalnya Pak Prabowo menolak mesti sudah ditolak oleh beliau itu usulan pelengseran Gibran. Kenyataannya, beliau tetap 50-50, tidak menolak, tidak menerima,” kata Ray.

Ray berpendapat, itu sudah menjadi tanda kalau kasus-kasus itu menjadi semacam sandera politik dari Prabowo kepada Jokowi. Selain itu, banyak tanda-tanda lain yang bisa dibaca seperti pencopotan menteri-menteri yang sebelumya bersama Jokowi.

Puncaknya, bagi Ray, semua bacaan-bacaan itu akan terkonfirmasi jika Prabowo mencopot Kapolri, Listyo Sigit, yang memang disebut publik sebagai salah satu orangnya Jokowi. Terlebih, melihat kinerja Polri yang disorot publik belakangan.

“Saya kira nanti akan kelihatan di Kapolri, kalau Kapolri-nya dengan segera diganti oleh Pak Prabowo, istilah saya sudah 80 persen tingkat keretakan (Jokowi-Prabowo), ini sudah retak lah hubungan ini,” ujar pendiri lembaga Lingkar Madani (Lima) itu.

Ray tidak menutup bacaan-bacaan publik kalau pertemuan itu turut merupakan pesan yang disampaikan pihak-pihak penyokong financial Jokowi kepada Prabowo. Salah satunya soal kemungkinan banyak bisnis-bisnis mereka yang terganggu saat ini.

Menurut Ray, itu cukup beriringan dengan Prabowo yang belakangan memang terlihat sedang melakukan semacam bersih-bersih di pemerintahan. Meskipun, ia menambahkan, langkah bersih-bersih yang dilakukan Prabowo memang tampak belum konsisten.

“Tapi, bersih-bersih justru untuk menempatkkan orang-orangnya dia juga, istilah saya itu, Dejokowisasi menuju Gerindraisasi, yang digantikan orang-orang Gerindra. Maka, itu dari politiknya, ekonominya, sosialnya semua itu bisa kena,” kata Ray. (WS05)

Temukan kami di Google News.