Rocky Gerung: Kenapa Anak Muda Datang ke Mahfud bukan ke Bahlil, Qodari, atau Erick Thohir?

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, bersama perwakilan-perwakilan homeless media yang datang untuk berdialog di Kantor Terus Terang Media, Senin (08/09/2025). Foto: Junaidi Ibnurrahman
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, bersama perwakilan-perwakilan homeless media yang datang untuk berdialog di Kantor Terus Terang Media, Senin (08/09/2025). Foto: Junaidi Ibnurrahman

Pengamat politik, Rocky Gerung, memberikan pandangan soal datangnya anak-anak muda kepada sosok seperti Mahfud MD saat ramai aksi unjuk rasa Agustus lalu. Terlebih, mereka merupakan puluhan homeless media, pemilik akun-akun besar di media sosial.

“Pertanyaan saya, kenapa mereka datang ke Pak Mahfud, tidak datang ke Bahlil, tidak datang ke Qodari, tidak datang ke Erick Thohir? Itu masalahnya. Jadi, dia mengerti bahwa alternatif itu ada pada Pak Mahfud atau secara umum pada masyarakat sipil,” kata Rocky kepada terusterang.id yang juga ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Selasa (23/09/2025).

Rocky berpendapat, anak-anak muda ini tahu ingin ada perubahan, tapi minta dituntun oleh nilai-nilai sipil. Ia merasa, mereka sadar betul kalau mereka membutuhkan itu, sehingga perlu bertukar pikiran dengan tokoh-tokoh yang memiliki civilian value.

Selain Mahfud, puluhan anak-anak muda yang merupakan homeless media ini memang mendatangi tokoh-tokoh yang dinilai memiliki nilai-nilai sipil yang sama. Antara lain, Prof Rhenald Kasali, Romo Magnis Suseno, Alissa Wahid, dan lain-lain.

“Jadi, ada semacam volunarisme untuk mencari tokoh untuk ngadu ya, itu bagus, waktu mereka demonstrasi itu ekspresi hardware-nya, setelah itu mereka refleksi dia mesti cari software, ada pada Pak Mahfud software-nya, ada pada Alisa Wahid software-nya, ada pada Romo Magni software-nya, itu bagus betul, oke, saya baru tahu itu, bagus,” ujar Rocky.

Terkait pertemuan itu, Mahfud menangkap, anak-anak muda memiliki satu ide tentang Indonesia yang benar, Indonesia yang maju, di mana mereka bisa hidup dengan nyaman. Tapi, belakangan anak-anak muda itu merasa saluran-saluran yang ada tersumbat.

“Sehingga, mereka berkeliling menyampaikan agar nanti suaranya menjadi lebih besar. Mereka biasanya menangkap kritik-kritik kita, misalnya datang ke Rocky Gerung lalu mencatat dan mereka siarkan, sampai 3 miliar views mereka dalam satu bulan,” kata Mahfud.

Sebagai anak-anak ideologis dari (alm) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Rocky turut mengungkap persahabatan dengan Mahfud sudah terjalin lama. Uniknya, dalam diskusi-diskusi publik, Rocky dan Mahfud kerap berada dalam posisi yang berseberangan.

Namun, ia menekankan, dari awal dirinya sudah melihat Mahfud sebagai orang yang surplus intelektual. Apalagi, Mahfud kerap mengulas masalah-masalah Orde Baru secara akademis, sehingga menganggapnya sebagai mitra perdebatan intelektual.

“Saya anggap bahwa ya walaupun berbeda visi ketika Pak Mahfud dalam kekuasaan, tapi saya tahu bahwa di dalam hati beliau itu ada sesuatu yang ingin dia kendalikan demi kestabilan politik. Tapi, ketika politik itu menghina dia, dia aslinya muncul kan,” ujar Rocky.

Selain itu, Rocky mengenang pertemuannya dengan Mahfud di Universitas Paramadina belasan tahun lalu, ketika Rocky menyampaikan dukungannya agar Mahfud maju dalam kontestasi pilpres. Walau dianggap gurauan, Rocky menegaskan, itu dukungan serius.

Bagi Rocky, sosok seperti Mahfud lulus etikabilitas dan intelektualitas. Setelah itu, barulah diuji elektabilitasnya. Rocky mengkritik capres atau caleg kini yang menguji elektabilitas terlebih dulu, saat defisit intelektualitas dan etikabilitas.

“Jadi, pada waktu itu di dalam pikiran saya hanya Mahfud MD yang lolos, lulus,
etikability, lulus intellectuality, baru lulus electability, gitu dong. Dan ke
depan mesti begitu prinsipnya tuh,” kata Rocky. (WS05)

Temukan kami di Google News.